FJTB Desak Presiden Prabowo Minta Maaf ke Insan Pers Buntut Sebutan Londo Ireng
Sabtu, 25 Juli 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Forum Jurnalis Televisi Bojonegoro menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan sebutan londo ireng terhadap wartawan dalam sebuah pidatonya. Penggunaan kiasan tersebut dinilai tidak tepat dan berpotensi memojokkan profesi jurnalis yang menjalankan peran penting sebagai pengawas jalannya pemerintahan.
Ketua Forum Jurnalis Televisi Bojonegoro, Bambang Yulianto, menilai perumpamaan yang disampaikan Kepala Negara berisiko menggiring opini publik seolah-olah kalangan pers bekerja demi agenda asing ketimbang kepentingan nasional. Pria yang akrab disapa Eeng itu menekankan bahwa karya pers diproduksi berlandaskan fakta objektif demi kepentingan masyarakat luas.
"Sebaiknya Presiden melakukan introspeksi, bukan justru sibuk mencari kambing hitam," kata Eeng, Jumat (24/07/2026).
Jurnalis Metro TV tersebut berpandangan bahwa pemberitaan kritis mengenai kendala pelaksanaan berbagai program andalan pemerintah seharusnya diterima sebagai masukan yang membangun. Menurutnya, pemerintah mestinya fokus membenahi kekurangan pelaksanaan di lapangan daripada melayangkan tuduhan kepada jurnalis.
"Daripada menyerang pembawa berita, presiden lebih baik memperbaiki fakta yang buruk, misalnya dengan memperbaiki tata kelola MBG, KDMP dan seterusnya," ujarnya.
Ia menganggap penyematan sebutan londo ireng kepada jurnalis sebagai prasangka yang tidak beralasan. Eeng bahkan menyamakan pernyataan tersebut dengan komentar bernada merendahkan yang pernah disampaikan oleh pengacara Hotman Paris Hutapea kepada wartawan. Atas dasar itu, ia mendesak Presiden untuk menarik ucapannya sekaligus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada insan pers.
"Apa yang salah jika wartawan meletakkan potret kebobrokan program pemerintah di halaman pertama media tempatnya bekerja? Itulah fungsinya pers sebagai kontrol sosial," celoteh Eeng.
Lebih lanjut, Eeng mengingatkan sejarah panjang kontribusi jurnalis terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Sejak era perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan saat ini, insan pers terus hadir menyebarkan informasi berharga serta menjembatani program-program pemerintah kepada khalayak umum.
"Sejarah kemerdekaan bangsa ini juga disebarluaskan oleh wartawan. Begitu pula berbagai program pemerintah yang baik dapat diketahui masyarakat melalui karya jurnalistik," katanya.
Sebelumnya, saat memberikan sambutan dalam puncak peringatan Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center pada Kamis (23/07/2026), Presiden Prabowo menyinggung soal keberadaan pihak yang ia sebut sebagai londo ireng masa kini. Sebutan itu dialamatkan kepada figur yang dinilai lebih berbakti kepada pihak asing ketimbang negeri sendiri.
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng yang ikut Belanda perang melawan kita," ujar Prabowo.
Dalam pidatonya, Presiden menyebut kelompok tersebut meliputi pelbagai kalangan, termasuk jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat. Kepala Negara juga mengkritik sebagian media yang dinilainya cenderung menonjolkan kekurangan pemerintah, seperti sekolah yang belum tersentuh perbaikan, ketimbang mempublikasikan puluhan ribu sekolah yang sudah selesai direnovasi.
Pernyataan Presiden tersebut kemudian memantik reaksi keras dari kalangan jurnalis yang menegaskan bahwa kontrol sosial dan kritik pers merupakan pilar utama dalam menjaga iklim demokrasi di tanah air.






























