Peringati World Diabetes Day 2026, IDI Bojonegoro dan PERSADIA Edukasi Masyarakat Kendalikan Diabetes
Senin, 20 Juli 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Upaya menekan angka kasus diabetes terus digalakkan di Kabupaten Bojonegoro. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui kolaborasi antara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bojonegoro dengan Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) Jawa Timur yang menggelar seminar bertajuk Hidup Sehat Sejahtera dengan Diabetes Terkontrol di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro pada Minggu (19/07/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Diabetes Sedunia atau World Diabetes Day (WDD) 2026 dengan dukungan penuh dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.
Rangkaian acara diawali dengan seminar ilmiah yang menyasar para dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam. Melalui sinergi lintas organisasi ini, diharapkan masyarakat luas dapat memperoleh edukasi yang tepat mengenai diabetes, sekaligus mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi para penyandang diabetes di daerah.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Alvi Chomariyati, menegaskan bahwa peringatan World Diabetes Day bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Momen ini merupakan alarm penting untuk mendongkrak kesadaran warga terhadap ancaman diabetes yang grafiknya terus merangkak naik. Ia menyebut minimnya pemahaman publik mengenai seluk-beluk penyakit ini menjadi tantangan paling berat yang dihadapi tim medis saat ini.
"Musuh terbesar diabetes bukan penyakitnya, tetapi ketidaktahuan masyarakat. Karena itu kami berkomitmen menghadirkan informasi yang valid, ilmiah, dan mudah dipahami agar masyarakat mampu mengendalikan diabetes melalui edukasi, pengaturan nutrisi, aktivitas fisik, dan kepatuhan menjalani terapi," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua IDI Cabang Bojonegoro, dr. Pramono Apriawan Wijayanto, mengungkapkan bahwa pelaksanaan seminar ini menjadi wujud nyata dari pengabdian profesi kedokteran kepada publik. IDI berkomitmen untuk terus merajut kemitraan erat dengan pemerintah daerah serta organisasi keprofesian lainnya demi memperluas jangkauan layanan kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Kami ingin terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan seluruh organisasi terkait untuk mewujudkan masyarakat Bojonegoro yang lebih sehat dan bermartabat. Yang perlu dipahami, diabetes bukan hanya soal penyakitnya, tetapi komplikasinya. Karena itu masyarakat perlu mendapatkan pendampingan tenaga kesehatan yang tepat dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar," kata dr. Pramono.
Apresiasi tinggi juga datang dari pihak eksekutif. Sekretaris Daerah Bojonegoro, Edi Susanto, yang hadir mewakili Bupati Bojonegoro, menyambut positif inisiatif yang digagas oleh IDI dan PERSADIA Jawa Timur. Menurutnya, kegotongroyongan antara organisasi profesi dan pemerintah adalah kunci utama dalam membangun kesadaran kolektif untuk mencegah penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus.
"Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian organisasi profesi dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Bojonegoro," ujar Edi saat membacakan sambutan Bupati Bojonegoro.
Dalam sambutan tersebut, Edi memaparkan bahwa diabetes melitus tergolong sebagai silent killer karena gejalanya kerap diabaikan oleh penderita hingga memicu komplikasi yang fatal. Apalagi Indonesia kini bertengger di peringkat lima besar dunia dengan jumlah penyandang diabetes terbanyak. Pola hidup yang tidak sehat, konsumsi gula berlebih, kurang gerak, dan kebiasaan enggan memeriksakan kesehatan secara rutin disinyalir menjadi pemicu utamanya.
Oleh sebab itu, Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Kesehatan beserta seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama terus memperkuat benteng promotif dan preventif. Selain memaksimalkan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan deteksi dini, pemkab gencar mengampanyekan perilaku CERDIK, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat yang cukup, dan kelola stres.
Menutup rangkaian sambutan, Edi menekankan bahwa penanganan diabetes tidak bisa bertumpu pada pundak pemerintah sendirian, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari seluruh elemen. Setelah sesi pembukaan, acara inti dilanjutkan dengan pemaparan materi berbobot dari tiga narasumber, yaitu dr. Hermina Novida mengenai Diabetes dan Keropos Tulang, disusul dr. Sekar Ayu yang mengupas Retinopati Diabetik, Ketika Dunia Mulai Memudar, serta pemaparan Erni Ernawati bertema Cerdas Memilih Makanan, Cerdas Mengendalikan Diabetes.
"Keberhasilan pengendalian diabetes tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Kami berharap IDI dan PERSADIA terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu mencegah maupun mengendalikan diabetes," tuturnya.































