Investasi Ratusan Juta, Gen Z di Bojonegoro Ini Serius Tekuni Budidaya Buah Melon
Jumat, 07 Agustus 2026 20:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Adalah Wahyu Nurmadin Azhar (23), Generasi Z asal Desa Sumodikaran RT 004 RW 002, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini serius tekuni budidaya buah melon menggunakan greenhouse dengan pola tanam hidroponik NFT (Nutrient Film Technique).
Laki-laki yang juga berprofesi sebagai polisi di Kepolisian Resor (Polres) Bojonegoro dengan pangkat brigadir polisi dua (Bripda) ini mengaku budidaya tanaman buah melon, khususnya jenis premium, masih cukup menjanjikan untuk dikembangkan karena nilai ekonomisnya cukup tinggi.
Selain itu, buah dengan nama asing cucumis melo linn ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua, sehingga permintaan komoditas ini di pasaran masih cukup tinggi.
Wisata petik buah melon di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (Aset: imam nurcahyo/beritabojonegoro)
Ditemui di kebunnya pada Jumat (07/08/2026) Wahyu mengaku sejak tahun 2023 lalu, dengan dibantu kedua orang tuanya dan dua orang pekerja, dirinya mengaku telah berinvestasi ratusan juta rupiah untuk membudidayakan tanaman buah melon. Dan saat ini, Wahyu memiliki dua greenhouse dengan rangka besi masing-masing berukuran 500 dan 600 meter persegi.
Menurutnya, selain nilai investasinya cukup tinggi, untuk menekuni budidaya melon menggunakan greenhouse ini dapat dibilang gampang-gampang susah. Akan tetapi, jika dilakukan dengan serius dan tahu cara untuk menjalankan budidaya melon ini akan dapat dilakukan dengan mudah.
“Awalnya mulai akhir tahun 2023 lalu. Bangun satu greenhouse dengan rangka bambu. Ternyata hasilnya cukup menjanjikan. Terus bangun lagi dua greenhouse dengan rangka besi. Untuk yang rangka bambu saat ini tidak dipakai,” tutur Wahyu.
Greenhouse atau rumah kaca adalah struktur bangunan tertutup yang dirancang untuk membantu pertumbuhan tanaman dengan menciptakan lingkungan yang terkendali. Sedangkan pola tanam hidroponik NFT adalah cara menanam tanaman tanpa tanah dengan mengalirkan lapisan air tipis berisi nutrisi secara terus-menerus melewati akar.
Fungsi utama dari greenhouse adalah mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dengan mengatur suhu, kelembapan, pencahayaan, dan sirkulasi udara di dalamnya. Selain itu, greenhouse juga berfungsi sebagai perlindungan terhadap cuaca ekstrem, pengendalian hama dan penyakit, perpanjangan musim tanam, dan peningkatan produktivitas serta kualitas tanaman.
Budidaya tanaman di greenhouse telah membuka peluang bagi para petani untuk meningkatkan hasil panen dan menghasilkan tanaman berkualitas tinggi sepanjang tahun.
Terlebih lagi jika budidaya melon tersebut dikemas menjadi wisata petik buah secara langsung saat musim panen, maka warga yang ingin menikmati wisata petik buah melon bisa datang langsung ke kebun.
Nantinya, pengunjung atau pembeli yang datang bisa memetik buah sendiri di kebun, baru kemudian buah yang dipetik tersebut ditimbang dan dihitung harganya.
Wahyu Nurmadin Azhar, petani buah melon asal Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (Aset: imam nurcahyo/beritabojonegoro)
Wahyu mengungkapkan bahwa budidaya tanaman melon di dalam greenhouse dengan pola tanam hidroponik NFT memiliki potensi untuk menghasilkan keuntungan yang besar, terutama jika dilakukan dengan baik dan benar. Hanya saja, budidaya dengan cara ini memang membutuhkan modal awal yang relatif cukup besar jika dibandingkan dengan cara tanam konvensional.
Menurutnya, untuk membangun satu unit greenhouse rangka besi dengan ukuran panjang 50 meter dan lebar 10 meter atau seluas 500 meter persegi, dibutuhkan modal sekitar Rp 200 juta. Biaya tersebut sudah termasuk pembuatan media tanam dan sejumlah instalasi pendukung, seperti pembuatan media tanam hidroponik NFT, kipas angin, mesin pompa air, dan sejumlah perlengkapan lainnya termasuk pemasangan 10 unit kamera CCTV.
Satu greenhouse dengan luas 500 meter persegi dapat menampung tanaman melon sebanyak 1.200 pohon dengan persentase yang hidup baik antara 80-90 persen. Dan satu tahun dapat panen sebanyak empat kali,” tuturnya.
Wahyu juga mengungkapkan bahwa greenhouse dengan rangka besi bisa bertahan hingga 20 tahun. Sementara untuk jaring kasa atau screen sintetis (incect net) bisa bertahan selama 10 tahun.
Saat ditanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk balik modal atau
break event point (BEP) dengan nilai investasi . tersebut. Wahyu mengaku sekitar tiga sampai empat tahun. Hal tersebut berdasarkan perhitungan untuk satu
greenhouse setiap kali panen menghasilkan buah sekitar dua ton. Dengan harga jual Rp 18 ribu sampai Rp 20 ripu per kilogram, sehingga setiap kali panen menghasilkan penghasilan kotor sekitar Rp 35 juta sampai Rp 40 juta.
“Keuntungan bersih tiap kali panen sekitar antara 15 juta sampai 20 juta rupiah. Setahun bisa panen empat kali sehingga tiga sampai paling lambat empat tahun sudah BEP.” tutur Wahyu.
Di akhir keterangannya Wahyu juga menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi dalam budidaya buah melon dengan pola tanam hidroponik NFT ini, salah satunya adalah terjadinya pemadaman listrik PLN. Untuk itu dirinya juga menyiapkan generator pembangkit listrik (gen set) untuk mengatasi kejadian tersebut.
“Dulu waktu belum punya genset pernah bibit yang baru ditanam mati semua. Karena pemadaman listrik PLN.” tuturnya.
Teguh Saputra, pengunjung wisata petik buah melon di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (Aset: imam nurcahyo/beritabojonegoro)
Sementara itu, salah satu pengunjung wisata petik buah melon bernama Teguh Saputra (20), warga desa setempat mengaku sudah beberapa kali berkunjung ke wisata petik buah melon milik Wahyu.
“Saya sudah beberapa kali ke sini. Setiap panen selalu beli di sisi dan petik sendiri.” tutur Teguh.
Saat ditanya terkait kualitas melon tersebut, Teguh mengaku cukup bagus dan rasanya juga sangat manis. Selain itu harganya juga cukup murah karena langsung dari petani.
“Kualitasnya bagus, dan tadi sudah nyobain manis banget. Dan di sini agak beda karena ada sensasinya petik sendiri. Bikin beda,” kata Teguh.
Sekadar diketahui, untuk membangun
greenhouse dalam budidaya melon, kerangka bisa dari bambu, kayu, atau besi, dengan ketinggian standar 3 meter. Untuk panjang dan lebar
greenhouse, bisa disesuaikan dengan luas lahan atau tanah yang ada. Atap terbuat dari jaring kasa atau
screen sintetis (
incect net). Untuk dinding menggunakan jaring halus tembus pandang.
Untuk instalasi media tanam hidroponik NFT menggunakan pipa yang dapat dibeli dipasaran.
Budidaya buah melon di dalam greenhouse ini hampir tidak perlu melakukan penyemprotan pestisida, karena sedikit sekali ditemui adanya hama. Sehingga hanya waktu ada hama saja baru dilakukan penyemprotan. Jika tidak ada hama maka tidak diperlukan penyemprotan pestisida. (red/imm)
Editor: Imam Nurcahyo
Publisher: Imam Nurcahyo