Menemukan Makna di Tengah Langkah yang Belum Selesai
Senin, 11 Mei 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Di tengah ritme hidup yang semakin cepat, banyak orang mulai mempertanyakan kembali arah perjalanan mereka. Target demi target dikejar, pencapaian demi pencapaian ditandai. Namun di sela-sela itu, muncul kegelisahan yang sulit diabaikan, apakah hidup memang sekadar perlombaan tanpa jeda?
Kegelisahan ini terasa semakin relevan hari ini. Cara pandang lama yang menempatkan hidup sebagai kompetisi perlahan mulai bergeser. Hidup tidak lagi hanya diukur dari seberapa cepat seseorang mencapai garis akhir, melainkan dari bagaimana ia hadir dan menjalani perannya saat ini.
Ada sebuah cerita.
Rizki duduk sendirian di bangku taman. Ponselnya dipenuhi notifikasi: pekerjaan, rencana, target yang belum tercapai. Semuanya berjalan seperti biasa, tetapi ada satu hal yang berbeda ia merasa lelah. Bukan secara fisik, melainkan batin.
Ia menatap sekeliling. Orang-orang berjalan cepat, seolah semua tahu tujuan mereka. Sementara ia justru sibuk mempertanyakan arah langkahnya sendiri.
“Ini semua untuk apa?” pikirnya. Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi sering kali justru muncul di tengah kesibukan. Saat seseorang mulai menyadari bahwa bergerak cepat tidak selalu berarti bergerak ke arah yang tepat.
Dalam psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui konsep meaning crisis krisis makna yang muncul ketika seseorang kehilangan rasa keterhubungan antara aktivitas yang dijalani dengan nilai hidup yang diyakini. Logotherapy, misalnya, menekankan bahwa manusia pada dasarnya terdorong untuk mencari makna, bukan sekadar mengejar kesenangan atau pencapaian.
Di titik ini, penerimaan menjadi kata kunci, meski kerap disalahartikan.
Sebagian orang menganggap menerima keadaan sama dengan menyerah. Padahal, dalam pendekatan Acceptance and Commitment Therapy atau Acceptance and Commitment Therapy, penerimaan justru dipahami sebagai kemampuan untuk mengakui kondisi diri saat ini secara jujur, tanpa penolakan berlebihan.
Penerimaan bukan berarti berhenti bergerak. Sebaliknya, ia adalah titik awal untuk bergerak dengan lebih sadar.
Di dalamnya terdapat keseimbangan yang sering luput disadari: antara rasa syukur dan dorongan untuk terus berkembang. Bersyukur menghadirkan ketenangan, sementara usaha memberi arah. Keduanya tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.
Hari itu, Rizki tidak buru-buru mengabaikan pertanyaannya. Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil: angin sore yang berhembus, suara tawa di kejauhan, pesan singkat dari seorang teman. Hal-hal sederhana yang dulu terasa sepele, kini justru memberinya ruang untuk bernapas.
Pengalaman ini sejalan dengan konsep mindfulness, yaitu kesadaran penuh terhadap momen saat ini tanpa menghakimi. Mindfulness membantu seseorang keluar dari tekanan masa depan dan penyesalan masa lalu, lalu kembali ke “sekarang” sebagai satu-satunya ruang yang benar-benar dimiliki.
Perlahan, Rizki belajar menerima bahwa tidak semua hal harus selesai hari ini. Tidak semua target harus segera tercapai. Dan tidak semua perjalanan perlu dibandingkan dengan orang lain.
Fenomena ini juga mengingatkan bahwa setiap peran memiliki makna. Entah sebagai pekerja, pelajar, orang tua, atau anak, menjalani tanggung jawab dengan kesadaran penuh merupakan bentuk penghargaan terhadap hidup itu sendiri.
Dalam teori self-determination, manusia akan merasa lebih utuh ketika tiga kebutuhan dasarnya terpenuhi: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Self-Determination Theory menjelaskan bahwa makna hidup sering kali muncul bukan dari hasil akhir, tetapi dari proses menjalani peran dengan rasa memiliki dan kesadaran.
Kembali pada Rizki, ia tidak berhenti bermimpi. Ia hanya mulai berjalan dengan ritme yang lebih selaras dengan dirinya sendiri.
Kebahagiaan pun mulai didefinisikan ulang. Bukan lagi tentang memiliki segalanya, melainkan tentang kemampuan untuk merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk terus melangkah.




























.md.jpg)


