News Ticker
  • kalender Jawa, Besok tanggal 06 Mei 2026 jatuh pada hari Rabu Pon
  • Cermin Hijau: Saat Kita Bertemu Diri Sendiri di Bawah Rindang Pohon
  • Tabrakan Motor di Kalitidu, Bojonegoro, Satu Orang Meninggal, 2 Lainnya Luka Ringan
  • Memahami Diri Sendiri Lebih dari Sekadar Apa yang Terlihat
  • Tersengat Listrik, Seorang Pekerja Peternakan Ayam di Sumberrejo, Bojonegoro Meninggal Dunia
  • Pemkab Bojonegoro Terapkan Rekayasa Lalu Lintas Selama Dua Hari Pemberangkatan Haji
  • Insiden di Bekasi Timur Ganggu Perjalanan KA, Daop 8 Surabaya Lakukan Penyesuaian Operasi
  • Gubernur Khofifah Targetkan Jawa Timur Jadi Pusat Substitusi Impor Infus Nasional
  • Dispusip Bojonegoro Gelar Bimtek Kearsipan, Upaya Menuju Standar Nasional
  • Petani Bojonegoro Peringkat Kedua Nasional Serap Pupuk Organik di Tengah Krisis Regenerasi
  • Integritas Aparatur Menjadi Kunci Perbaikan Sistem Pengendalian Korupsi di Bojonegoro
  • Angkutan Pelajar Gratis di Bojoneogro Mulai Aktif Kembali
  • Pemprov Jatim Borong Penghargaan Nasional di Peringatan Hari Otonomi Daerah
  • Perkuat Ketahanan Pangan, Program KOLEGA Bojonegoro Sasar 335 Keluarga Penerima Manfaat Tahun 2026
  • Optimalkan Pencegahan Korupsi, BPKP Pusat Jadikan Bojonegoro Percontohan Nasional
  • Perkuat Tata Kelola, 430 Pengurus Koperasi Desa Merah Putih Ikuti Bimtek Laporan Keuangan
  • Minimal 46 Persen Penduduk Bojonegoro Harus Ikuti CKG Tahun 2026
  • Wabup Nurul Azizah Ajak Masyarakat Bojonegoro Beli Telur Hasil Program Gayatri
  • Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, KAI Sampaikan Permohonan Maaf
  • Kaitan Antara Konsumsi Tempe dan Risiko Asam Urat
  • Arief Januwarso Nahkodai ICMI Bojonegoro Periode 2026-2031
  • MWCNU Kapas Gelar Lailatul Ijtima di Desa Bogo, Wadah Konsolidasi Anggota
  • TNI Koramil Sukosewu Santuni Nenek Korban Penipuan Modus Haji di Desa Klepek
  • Nggon Sahdu, Inovasi Agrowisata Satu Rumah Satu Pohon Durian di Kecamatan Gondang
Cermin Hijau: Saat Kita Bertemu Diri Sendiri di Bawah Rindang Pohon

Cermin Hijau: Saat Kita Bertemu Diri Sendiri di Bawah Rindang Pohon

Bayangkan sebuah pagi di mana dunia berhenti sejenak dari kebisingannya. Kamu berdiri di hadapan sebuah pohon tua, sebuah monumen hidup yang telah berdiri jauh sebelum tangismu pertama kali pecah di bumi. Kulit batangnya kasar, penuh dengan guratan-guratan waktu yang bercerita tentang musim kemarau yang panjang dan badai yang gagal menumbangkannya.


Di sinilah, dalam keheningan yang magis, kita seringkali baru menyadari sebuah rahasia besar kita tidak sedang melihat "objek" alam. Kita sedang menatap cermin dari keberadaan kita sendiri.
Pernahkah kau perhatikan bagaimana pola aliran sungai ? bisa kita samakan seperti pembuluh darah di tanganmu? Atau bagaimana percabangan pohon di hutan menyerupai jaringan saraf di otakmu? Alam tidak menciptakan kita secara terpisah; ia mencetak kita dari cetakan yang sama.


Hubungan manusia dan pohon bukan hanya simbiosis tentang oksigen dan karbon dioksida. Ini adalah hubungan darah yang tak terlihat. Saat kita menyentuh batang pohon, ada frekuensi tertentu yang bergetar di telapak tangan kita. Itu adalah pengingat bahwa nenek moyang kita pernah berlindung di sana, mencari makan di sana, dan menggantungkan hidup pada kemurahan hati dahan-dahannya. 
Pohon adalah adalah keluarga pohon itu adalah kakak tertua dalam silsilah kehidupan, yang dengan sabar menunggu adiknya yang paling sombong manusia untuk kembali pulang dan mengerti arti kecukupan.


Kita (manusia) adalah spesies yang selalu terburu-buru. Kita membangun gedung dalam hitungan bulan dan menghancurkannya dalam hitungan hari. Namun, pohon mengajarkan kita tentang ritme yang berbeda. Ia tumbuh dalam sunyi, meluas dalam kesabaran. Ia tidak pernah merasa iri pada pohon di sebelahnya yang lebih tinggi, tidak pula merasa rendah diri saat daun-daunnya menguning dan gugur kembali ke bumi.


Pohon memahami satu hal yang sering kita lupakan bahwa untuk mencapai langit, akarmu harus berani masuk ke dalam kegelapan tanah yang paling dalam. Kehidupan manusia pun demikian. Tanpa akar tradisi, tanpa pijakan pada bumi yang kita pijak, pencapaian setinggi apa pun hanya akan membuat kita rapuh saat angin badai datang menerjang.


Saat ini, hutan-hutan kita merintih. Setiap kali satu gergaji mesin merobek jantung hutan, ada sesuatu yang retak di dalam jiwa kemanusiaan kita. Kita merasa semakin cemas, semakin hampa, dan semakin kehilangan arah. 


Mengapa? Karena secara batiniah, kita tahu bahwa setiap pohon yang tumbang adalah sepotong "paru-paru" kita yang dicuri.
Kita sering menganggap alam sebagai harta warisan yang bisa dihabiskan, padahal alam adalah titipan yang harus dikembalikan. Saat kita memutus hubungan dengan pohon, kita sebenarnya sedang mencabut kabel nyawa kita sendiri. Rasa haus kita akan beton dan kemegahan semu telah membuat kita buta bahwa kemewahan sejati adalah bisa menghirup udara segar di bawah rindangnya tajuk hijau, sebuah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan angka-angka di saldo bank.


Menyayangi alam bukan berarti kita harus pindah ke tengah hutan. Menyayangi alam dimulai dari cara kita memandang pohon di pinggir jalan dengan rasa hormat. Menyadari bahwa ia sedang bekerja keras untukmu dan semua mahluk yang ada di sekitarnya.


Tak hanya memberikan oksigen namun juga menyerap debu dari knalpotmu, mendinginkan aspal yang kau lalui, dan memberikan tempat bagi burung-burung untuk bernyanyi di pagi hari agar harimu sedikit lebih indah.


Mari kita bangun sebuah hubungan baru. Sebuah hubungan di mana manusia tidak lagi bertindak sebagai penakluk, melainkan sebagai penjaga. Sebuah hubungan di mana kita berani berbisik pada semesta, "Terima kasih telah memberiku napas hari ini.


Pada akhirnya, ketika mentari terbenam dan usia kita mencapai senjanya, kita semua akan kembali menjadi satu dengan tanah. Kita akan menjadi nutrisi bagi biji-bijian yang baru tumbuh, menjadi bagian dari kayu yang akan memberikan teduh bagi generasi mendatang. Kita adalah pohon, dan pohon adalah kita. Kita adalah satu napas panjang yang ditiupkan di bumi yang satu ini.


Maka, selagi masih ada waktu, dekaplah alam itu di dalam hatimu. Karena saat pohon terakhir mati dan sungai terakhir beracun, kita akan sadar bahwa kita tidak bisa memakan uang, dan kita tidak bisa memeluk kesepian di planet yang gundul.(red/Mul)

 

Reporter: Tim Redaksi

Editor: Mulyanto

Publisher: Mulyanto

 

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Opini

Cermin Hijau: Saat Kita Bertemu Diri Sendiri di Bawah Rindang Pohon

Cermin Hijau: Saat Kita Bertemu Diri Sendiri di Bawah Rindang Pohon

Bayangkan sebuah pagi di mana dunia berhenti sejenak dari kebisingannya. Kamu berdiri di hadapan sebuah pohon tua, sebuah monumen hidup ...

Infotorial

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

ExxonMobil di Blok Cepu Siap Hadapi Target Produksi 2026

Bojonegoro - Sepanjang 2025, produksi minyak Blok Cepu kembali melampaui target pemerintah. ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), sebagai operator salah satu ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1777976797.9339 at start, 1777976801.6281 at end, 3.6942210197449 sec elapsed