Peringati Usia Ke-44, PSJB Gelar Sarasehan dan Dorong Kolaborasi Penguatan Sastra Jawa
Kamis, 23 Juli 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Komunitas pegiat literasi Pamarsudi Sastra Jawa Bojonegoro (PSJB) menginjak usia ke-44 tahun. Momen bersejarah tersebut diperingati dengan menggelar acara potong tumpeng dan sarasehan bertema Peran Pemangku Kebijakan dalam Menjaga Eksistensi Sastra Jawa pada Era Digitalisasi di Waroeng Bucu Coffee, Rabu (22/7/2026).
Ketua PSJB Nono Warnono menjelaskan bahwa Bojonegoro memiliki banyak sastrawan dan kiprahnya sudah diakui tingkat nasional, di antaranya enam penghargaan Rancage telah diterima oleh sastrawan Bojonegoro. PSJB sendiri berdiri sejak tahun 1982 dan telah banyak menelurkan karya sastra. Saat ini tantangannya adalah bagaimana menggugah anak-anak muda mempelajari karya sastra jawa, tuturnya.
"Oleh karena itu, PSJB berharap bisa berkolaborasi dengan Pemkab Bojonegoro untuk menghadirkan buku ajar bahasa jawa di tingkat SD dan SMP. Hal ini, kata Nono, penting mengingat buku ajar bahasa jawa Bojonegaran bisa lebih dekat dengan anak-anak didik. PSJB ini kemudian menjadi ruang berkumpul para pegiat literasi sastra jawa," terangnya.
Peringatan hari jadi PSJB ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati menekankan pentingnya pendidikan bahasa jawa sebagai muatan lokal di jenjang pendidikan dasar.
"Atas nama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro saya mengucapkan selamat kepada PSJB yang sekarang berusia 44 tahun. Kalau dalam organisasi, semakin bertambah usia maka semakin banyak inovasi kegiatan," kata Wakil Bupati saat memberi sambutan.
Menurut dia, bahasa jawa perlu mendapat perhatian semua pihak. Pemkab Bojonegoro, lanjut dia, mendorong muatan lokal bahasa jawa masuk kurikulum pendidikan tingkat SD dan SMP agar generasi anak-anak tetap memegang teguh bahasa jawa dan tidak kehilangan jawa-nya.
Ia juga menjelaskan kekayaan lokal Bojonegoro yang patut diteladani, salah satunya adalah filosofi Samin yang tercermin dalam batik obor sewu. Motif ini bermakna memberi penerangan karena filosofi Samin adalah sabar, nerimo, jujur dan trokal. Udheng obor sewu kini menjadi ciri khas Bojonegoro. Setiap hari Rabu, para ASN menggunakan udheng Obor Sewu ini, tegasnya.
Rangkaian sarasehan sastra jawa dalam peringatan harlah PSJB tersebut dihadiri oleh dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang penerbitan sastra jawa, yakni Wibowo Basuki dari majalah Jaya Baya dan Kukuh Setya Wibowo dengan moderator Arieyoko. Dalam paparannya, kedua narasumber menjelaskan tantangan yang dihadapi para penerbit majalah bahasa jawa. Panjebar Semangat saat ini memiliki rubrik Wacan Bocah dan Cerita Remaja untuk menjangkau pembaca muda.
Editor Mulyanto






























