Ancaman Kekeringan Meluas, Pemprov dan DPRD Jatim Perketat Antisipasi Puso di Kawasan Selatan
Selasa, 22 September 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) bersama DPRD Jatim memperketat langkah antisipasi dampak kekeringan yang mulai mengancam kawasan pertanian di wilayah selatan dan barat Jawa Timur. Penanganan disiapkan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan sumber air untuk persawahan hingga penguatan cadangan pangan guna mengantisipasi potensi gagal panen (puso).
Berdasarkan data BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Timur diprakirakan berlangsung hingga Oktober 2026. Puluhan kecamatan di kawasan Tapal Kuda dan Mataraman bahkan mencatatkan Hari Tanpa Hujan (HTH) secara berturut-turut, yang memicu penurunan debit air irigasi secara drastis.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Indra Widya Pratama, mengungkapkan bahwa ketersediaan air menjadi keluhan utama para petani saat ia menggelar reses di kawasan Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Magetan. Menurutnya, petani membutuhkan intervensi langsung berupa pembuatan sumur persawahan.
"Aspirasi paling mendesak adalah pengadaan titik sumber air atau sumur di area persawahan. Model pengadaan sumber air persawahan seperti yang sudah diterapkan di Magetan ini terbukti efektif membantu petani saat kemarau panjang," ujar Indra, Senin (21/09/2026).
Selain infrastruktur air, Indra mendorong optimalisasi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog Kanwil Jatim yang saat ini tercatat di atas 200 ribu ton. Stok tersebut dinilai memadai untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pasar jika terjadi penyusutan hasil panen.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyatakan pihak Pemprov telah menerjunkan berbagai langkah darurat hingga jangka panjang. Mulai dari pembagian pompa air, pembuatan sumur bor, pemipaan, hingga menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BNPB dan BMKG di wilayah rawan seperti Malang Raya, Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek.
Emil menegaskan, Pemprov Jatim juga menyiagakan alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT) bagi para petani yang wilayahnya telanjur mengalami puso. Bantuan minimal berupa penyaluran bibit tanaman baru akan diberikan agar petani memiliki modal saat musim tanam berikutnya tiba.
Langkah terpadu ini disiapkan demi menjaga target produksi padi Jawa Timur yang dipatok di atas 9,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) tetap tercapai sebagai penopang lumbung pangan nasional.































