Warga Leran dan Sukoharjo Kalitidu Bersama-sama Bangun Infrastruktur Publik
Rabu, 29 Juli 2026 18:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Akses mobilitas harian bagi ratusan warga di sekitar wilayah operasi hulu migas Lapangan Kedung Keris kian membaik. Melalui Program Peningkatan Akses Ekonomi dengan Penyediaan Infrastruktur Publik yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama SKK Migas, masyarakat Desa Leran dan Sukoharjo di Kecamatan Kalitidu bersiap membangun jalan lingkungan baru di wilayah mereka.
Penerapan program ini mengedepankan keterlibatan penuh masyarakat sejak awal perencanaan. Warga tidak hanya merumuskan kebutuhan di tingkat bawah, tetapi juga melaksanakan langsung pengerjaan fisik di lapangan, hingga melakukan monitoring dan evaluasi secara bersama-sama guna memastikan akuntabilitas pembangunan.
Peningkatan fasilitas publik ini berdampak langsung pada lebih dari 250 warga Desa Leran. Di desa tersebut, jalan sepanjang 400 meter dengan lebar 3,5 meter bakal ditingkatkan mutunya. Kepala Desa Leran, Mutabi’in, menyatakan kesiapan jajarannya mengawal pelibatan aktif masyarakat selama proyek berjalan.
“Kami menyambut baik dan siap memfasilitasi koordinasi antara warga dengan tim pelaksana di lapangan. Pemantauan berkala akan dilakukan agar kualitas fisik bangunan optimal,” kata Mutabi’in kepada media pada Rabu (28/07/2026).

Di Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, jalan sepanjang 400 meter dengan lebar 3,5 meter bakal ditingkatkan mutunya. Pemerintah desa setempat akan mengawal pelibatan aktif masyarakat selama proyek berjalan. Aset: Istimewa
Dampak serupa bakal dirasakan sedikitnya 200 warga di Desa Sukoharjo. Aksesibilitas harian masyarakat setempat akan ditopang oleh pembangunan jalan lingkungan sepanjang 450 meter dengan lebar 3 meter. Ketua Tim Pelaksana Kegiatan (Timlak) Desa Sukoharjo, Imam Safi’i, bersama Sulastri yang menjabat sebagai Sekretaris Timlak, menegaskan bahwa proyek ini menjawab keluhan mendasar masyarakat di tingkat tapak.
“Infrastruktur ini sangat dibutuhkan untuk mempermudah kegiatan ekonomi warga. Kami berharap pengerjaannya tepat sasaran serta memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Sulastri.
Pemerintah Desa Sukoharjo berkomitmen menggerakkan partisipasi swadaya masyarakat guna mendampingi kerja Timlak agar berjalan transparan. Perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, menjelaskan bahwa penguatan prasarana berbasis komunitas ini merupakan wujud komitmen industri hulu migas untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam pemerataan pembangunan. Pada kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi dukungan masyarakat terhadap kelancaran operasi migas nasional di Lapangan Kedung Keris dan Banyu Urip.
“Semoga program ini bisa menjadi daya dongkrak bagi peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar wilayah operasi,” tutur Slamet Rijadi.
Dalam implementasinya, EMCL menggandeng Lembaga Studi Penguatan Masyarakat (LSPM) sebagai mitra pendamping program. Direktur LSPM, Maksum Rozi, memaparkan bahwa pihaknya akan memberikan pelatihan intensif kepada warga yang ditunjuk menjadi tim pelaksana pembangunan.
“Pelatihan ini penting untuk membekali warga mengenai teknik penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), desain bangunan, hingga tata kelola administrasi. Langkah pembekalan tersebut ditujukan demi menjaga kualitas fisik infrastruktur, akuntabilitas anggaran, serta transparansi publik,” jelas Maksum.
Melalui forum diskusi interaktif ini, warga mendapatkan pemahaman utuh mengenai tahapan pengerjaan fisik, mekanisme pengadaan material, hingga metode pengawasan mutu secara partisipatif. Selain menyasar kawasan Kalitidu, program perluasan akses ekonomi dan pemerataan infrastruktur publik ini juga dilaksanakan secara bertahap di Kecamatan Ngasem, meliputi Desa Jampet, Jelu, Wadang, dan Bareng yang berada di jalur pipa Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris.






























