Marak Isu Produk Abal-Abal, Ini Poin Beda Beras Fortifikasi dan Beras Biasa
Sabtu, 19 September 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Isu beredarnya beras fortifikasi abal-abal tengah menjadi sorotan publik. Temuan pemerintah menunjukkan sejumlah produk di pasaran mengklaim sebagai beras fortifikasi, namun kandungan gizi di dalamnya tidak sesuai dengan informasi pada kemasan. Fenomena ini pun memicu pertanyaan di masyarakat mengenai apa sebenarnya beras fortifikasi dan bagaimana membedakannya dengan beras biasa.
Secara fisik dan rasa setelah dimasak, beras fortifikasi dan beras biasa pada dasarnya sama persis. Perbedaan mendasar keduanya terletak pada proses pengolahan serta kandungan zat gizi mikro tambahan di dalamnya.
Beras biasa hanya mengandalkan nutrisi alami yang tersisa dari proses penggilingan dan penyosohan. Sementara beras fortifikasi mendapat tambahan vitamin dan mineral melalui pencampuran kernel khusus (kernel beras fortifikan) yang dibuat menyerupai butiran beras dengan proporsi yang terukur dan merata.
Penambahan gizi ini sejatinya bertujuan untuk menekan risiko kekurangan zat gizi mikro pada masyarakat, mengingat beras merupakan bahan pangan pokok utama warga Indonesia.
Tidak sembarang beras berklaim gizi bisa disebut sebagai beras fortifikasi. Pemerintah telah menetapkan standar ketat melalui SNI 9372:2025. Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi resmi, terdapat ambang batas gizi minimal yang wajib dipenuhi:
- Vitamin B1: Minimal 0,25 mg (membantu metabolisme energi)
- Asam Folat: 0,25 hingga 0,38 mg (pembentukan sel dan mencegah stunting)
- Vitamin B12: 1 hingga 1,5 mcg (pembentukan sel darah merah dan sistem saraf)
- Zat Besi: 3,50 hingga 5,25 mg (pembentukan hemoglobin dan mencegah anemia)
- Seng (Zinc): 3 hingga 4,5 mg (pembentukan imun dan pertumbuhan)
Selain gizi, mutu fisiknya pun diatur ketat. Beras fortifikasi wajib memiliki warna, aroma, dan tekstur normal, dengan kadar air maksimal 14 persen serta tingkat homogenitas campuran kernel maksimal 15 persen. Bahan baku kernelnya pun harus mengacu pada aturan SNI 9314:2024.
Lantas, mana yang sebaiknya dipilih warga? Baik beras biasa maupun beras fortifikasi sama-sama aman dan sehat untuk dikonsumsi. Beras fortifikasi menjadi nilai tambah bagi warga yang ingin memenuhi kebutuhan mikronutrien sehari-hari lewat nasi.
Namun, hal terpenting yang perlu dicermati konsumen saat ini adalah memastikan produk beras fortifikasi yang dibeli memiliki izin resmi serta mencantumkan informasi gizi yang sesuai dengan standar pemerintah, guna menghindari produk abal-abal yang merugikan.
Editor: Mulyanto































