Manfaatkan Sampah untuk Bayar PBB, Inovasi SAJAK Desa Tebon Jadi Wadah Kreativitas Lingkungan dan Edukasi Remaja
Kamis, 27 Agustus 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Gagasan mengolah limbah rumah tangga menjadi nilai guna finansial kini benar-benar terwujud di Desa Tebon, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Melalui inovasi bertajuk Sampah untuk Bayar Pajak (SAJAK), masyarakat setempat diajak memilah limbah bernilai ekonomi untuk melunasi kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sekaligus merawat kelestarian lingkungan.
Ketua Tim Penggerak PKK Desa Tebon, Yani Suryani, memaparkan bahwa mekanisme program ini bertumpu pada kebiasaan warga mengumpulkan jenis sampah tertentu secara rutin setiap bulan. Hasil penimbangan rongsok direkap hingga akhir tahun dan dialokasikan langsung untuk pemenuhan PBB pada periode berikutnya.
“Program SAJAK untuk lingkungan lestari. Ini sudah di-launching awal Agustus lalu,” kata Yani Suryani saat menerima kunjungan TP PKK Kabupaten Bojonegoro.
Ia menerangkan lebih rinci mengenai jenis limbah yang diproses dan mekanisme pengembalian surplus dana yang terkumpul dari penimbangan sampah tersebut.
“Saat ini, jenis sampah yang diterima melalui program SAJAK antara lain plastik, kardus, dan besi,” jelasnya.
Apabila akumulasi nilai sampah yang disetorkan warga melebihi total tagihan PBB yang harus dibayar, selisih uangnya akan diserahkan kembali kepada warga. Pola kreasi ekonomi sirkular ini pun mendapat apresiasi dari Ketua TP PKK Kabupaten Bojonegoro, Cantika Wahono.
“Terlebih inovasi di Desa Tebon ini sampah untuk pembayaran pajak. Di beberapa desa yang kita kunjungi juga ada seperti di sini, ini sangat bagus sekali,” ungkap Cantika Wahono.
Selain mengulas pengelolaan sampah, Cantika juga menyoroti pentingnya menyalurkan energi kreatif remaja untuk pencegahan masalah sosial seperti pernikahan dini. Menurutnya, anak muda perlu diberi ruang berekspresi, misalnya lewat pembuatan konten kreatif digital yang mengangkat potensi wisata lokal seperti Waduk Sonorejo dan Waduk Prangi.
“Untuk meminimalisir pernikahan dini, para remaja bisa diajak aktif mengikuti berbagai ajang seperti Duta Kange Yune, Duta Genre, juga ada lomba cegah pernikahan dini,” jelasnya.
Ia meyakini aktivitas pembuatan konten promosi daerah mampu mengarahkan minat generasi muda ke hal-hal produktif yang berorientasi masa depan.
“Kita ajak membuat konten di tempat-tempat wisata tersebut agar para remaja di Bojonegoro lebih berpikir untuk masa depan,” tambahnya.
Sinergi antara gerakan peduli lingkungan berbasis pajak dan wadah kreativitas remaja ini diharapkan terus berkembang, sehingga mampu menjadi pemantik kemandirian ekonomi keluarga sekaligus mendorong pembangunan karakter generasi muda di Bojonegoro.(red/toh)































