Slow Jogging vs Jogging Biasa, Mana Lebih Bermanfaat?
Selasa, 21 Juli 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Tren slow jogging saat ini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial sebagai opsi olahraga yang ramah bagi pemula. Kendati dilakukan dengan kecepatan yang relatif santai, metode lari lambat ini diklaim tetap efektif dalam meningkatkan kesehatan fisik dan bugar secara keseluruhan.
Lantas, apa sejatinya perbedaan antara slow jogging dan jogging biasa dari sudut pandang medis?
Slow jogging dilakukan pada kecepatan sekitar 3 hingga 5 km per jam, yang mana hanya sedikit lebih cepat dari jalan kaki santai. Karakteristik utamanya memakai talk test, yaitu pelaku lari masih sanggup mengobrol tanpa tersengal-sengal atau kehabisan napas. Sementara itu, jogging biasa menggunakan intensitas sedang hingga tinggi. Ritme napas terasa lebih berat, denyut jantung meningkat signifikan, dan tubuh memerlukan pembakaran energi yang lebih besar untuk mempertahankan tempo.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dari Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Listya Tresnanti Mirtha SpKO Subsp APK(K) MARS, menjelaskan bahwa pada dasarnya kedua metode tersebut sama-sama merupakan olahraga kardio yang baik. Fokus pertimbangannya ada pada kecocokan kondisi fisik masing-masing individu.
Dr. Tata menerangkan bahwa dirinya tidak mengatakan slow jogging lebih baik, tetapi yang jelas akan lebih sesuai untuk kelompok tertentu. Jogging biasa tentu memberikan peningkatan kapasitas kardiorespirasi yang lebih besar apabila dilakukan dengan intensitas lebih tinggi.
Beberapa poin nilai tambah dari slow jogging jika dibandingkan dengan lari bertempo biasa antara lain sangat mudah dipraktikkan oleh pemula maupun lansia, tekanan pada sendi relatif lebih rendah, risiko cedera lebih kecil, serta tingkat kelelahan yang rendah sehingga lebih mudah dipertahankan sebagai kebiasaan rutin harian.
Dr. Listya menegaskan, kunci utama dari olahraga bukanlah mencari mana yang paling superior, melainkan memilih aktivitas yang aman, sesuai dengan batas kemampuan tubuh, serta dapat dijalankan secara konsisten.
Editor: Mohamad Tohir































