Ringankan Beban Kekeringan Warga Sumberrejo, PMI dan BPBD Bojonegoro Pasok Air Bersih
Rabu, 12 Agustus 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Rasa lega menyelimuti warga Desa Deru dan Desa Kayulemah di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, saat armada tangki pembawa bantuan air bersih tiba di wilayah pemukiman mereka pada Senin (10/08/2026) awal pekan ini.
Pasokan air dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bojonegoro yang bergandengan tangan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tersebut menyasar pemukiman warga yang mulai kesulitan mendapatkan pasokan air saban harinya. Bantuan ini dimanfaatkan secara langsung oleh warga untuk menopang kebutuhan konsumsi dapur, konsumsi minum, hingga pemenuhan kebutuhan sanitasi harian keluarga.
Langkah responsif gabungan antara lembaga kemanusiaan dan instansi penanggulangan bencana daerah ini menjadi bukti nyata kepedulian bersama dalam menanggulangi dampak kekeringan yang mulai meluas di wilayah Bojonegoro.
Ketua PMI Kabupaten Bojonegoro Ninik Susmiati mengatakan, distribusi air bersih dilakukan sebagai bentuk respons PMI terhadap kebutuhan masyarakat yang mengalami kekeringan. “Pendistribusian air bersih dilakukan oleh PMI Kabupaten Bojonegoro dalam rangka merespons kebutuhan air bersih masyarakat Bojonegoro yang mengalami kekeringan,” ujarnya.
Guna memastikan penyaluran tepat sasaran, Ninik menegaskan pihak PMI terus membangun komunikasi intensif dengan pihak BPBD Kabupaten Bojonegoro untuk pemetaan titik-titik krisis air terbaru di lapangan.
“Dalam pelaksanaan distribusi, pihak PMI akan selalu berkoordinasi dengan BPBD terkait titik lokasi yang membutuhkan air bersih,” jelasnya.
Penanganan di lapangan turut melibatkan deretan staf markas beserta relawan PMI. Lewat pengerahan personil ini, alokasi bantuan air dapat terbagi secara merata kepada kelompok warga yang paling membutuhkan bantuan darurat.
Melalui kerja sama yang solid ini, PMI berharap sinergi lintas lembaga dan keterlibatan aktif para relawan dapat terus terjaga secara berkelanjutan sepanjang periode musim kemarau. “Sehingga sinergi dalam penanganan kekeringan bisa berjalan dengan optimal,” pungkasnya.































