Dorong Budaya Riset untuk Percepat Pembangunan Bojonegoro Bersama INSPIRA RISBO
Selasa, 11 Agustus 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegro - Dunia pendidikan dan riset di Kabupaten Bojonegoro mencatatkan momentum penting melalui perayaan Hari Ulang Tahun pertama wadah Inspirasi Akademisi dan Periset Bojonegoro atau INSPIRA RISBO. Kiprah para akademisi tersebut diulas secara mendalam dalam agenda gelar wicara khusus yang disiarkan melalui gelombang radio Malowopati FM dengan mengusung tema Budaya Riset, Inovasi, dan Kolaborasi dalam Mendukung Pembangunan Kabupaten Bojonegoro.
Acara siaran udara yang dipandu oleh penyiar Iwan Siswoyo tersebut menghadirkan tiga tokoh penting di balik pendirian komunitas riset ini, yakni Pembina INSPIRA RISBO Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli, Pengarah INSPIRA RISBO Dr. Ifa Khoiria Ningrum, serta Ketua Umum INSPIRA RISBO Dr. Ima Isnaini Taufiqur Rohmah. Kehadiran para akademisi ini sekaligus memaparkan sejumlah agenda strategis yang telah disiapkan untuk mendukung program prioritas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, seperti penekanan angka putus sekolah, pencegahan pernikahan usia dini, hingga akselerasi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia.
Dalam pemaparannya, Dr. Ima menyampaikan bahwa komunitas ini lahir dari inisiatif para dosen dan praktisi perguruan tinggi swasta yang berkeinginan kuat untuk mendedikasikan keilmuan mereka secara langsung bagi kemajuan daerah. Wadah kolaborasi lintas disiplin ini kini telah berkembang pesat dan merangkul puluhan anggota dari berbagai latar belakang profesi.
"Saat ini sudah ada 75 anggota, tidak hanya dosen tetapi juga guru hingga fresh graduate dari berbagai disiplin ilmu. Bojonegoro memiliki potensi anak-anak hebat yang perlu diberi ruang. Human capital merupakan fondasi dasar untuk membangun sebuah daerah," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Pembina INSPIRA RISBO Assoc. Prof. Dr. Sri Budi Cantika Yuli atau yang akrab disapa Bunda Cantika menekankan bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak cukup hanya ditopang oleh pembangunan infrastruktur fisik saja, melainkan harus dibarengi dengan penguatan kualitas sumber daya manusia serta penanaman pola pikir berbasis riset dan data yang akurat.
"Kultur riset bukan hanya milik dosen, melainkan pola pikir masyarakat. Misalnya dalam penanganan stunting. Sebelum mengambil keputusan perlu ada data dasar, kajian, kesimpulan, hingga evaluasi. Jika masyarakat terbiasa dengan pola pikir berbasis riset, perumusan dan pelaksanaan kebijakan daerah akan jauh lebih efisien," jelas Bunda Cantika.
Ia juga menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor atau model pentahelix hingga hexa helix governance yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, serta masyarakat luas agar proses transformasi pembangunan dapat berjalan jauh lebih cepat dan tepat sasaran.
"Tidak ada sebuah lembaga yang bisa berdiri sendiri. Artinya hexa helix governance itu diperlukan. Pemerintah membutuhkan akademisi, akademisi membutuhkan masyarakat sebagai laboratorium sosial, dan dunia usaha membutuhkan hasil riset. Juga peran media membantu menyebarluaskan informasi dan kolaborasi inilah yang mempercepat pembangunan di Bojonegoro," tandasnya.
Sementara itu, Dr. Ifa Khoiria Ningrum menambahkan bahwa esensi utama dari kehadiran komunitas ini adalah mewadahi para pemikir dari berbagai bidang keilmuan seperti pertanian, ekonomi, teknik, hingga pendidikan untuk mengaktualisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara kolaboratif demi kemaslahatan warga Bojonegoro.
"Ruh dari akademisi adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian, pengabdian, dan pengajaran. Di INSPIRA RISBO, kami menyatukan semangat tersebut dengan mengedepankan kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk memberi kontribusi positif bagi pembangunan Kabupaten Bojonegoro," pungkasnya.































