Matangkan Gagasan Pendidikan Khas Daerah, Dewan Pendidikan Bojonegoro Kunker ke DIY
Sabtu, 03 Oktober 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Dalam upaya memperkuat fungsi kepengurusan periode 2026–2030 sekaligus mematangkan gagasan pendidikan berbasis kekhasan daerah, Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro menggelar kunjungan kerja (benchmarking) ke Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis (01/10/2026).
Rombongan Dewan Pendidikan Bojonegoro dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Dr. Ahmad Anfasul Marom. Kehadiran dewan pendidikan Bojonegoro diterima secara hangat oleh jajaran pengurus Dewan Pendidikan DIY di kantor turut Kompleks Pringgitan Wiyatapraja, Kompleks Kepatihan, Danurejan, Yogyakarta.
Fokus utama studi komparatif ini mengulas mengenai penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Konsep ini dinilai berhasil mentransformasikan nilai filosofis, budaya, dan identitas lokal menjadi panduan operasional dalam kurikulum pembelajaran sekolah.
"Kami ingin belajar dari Dewan Pendidikan yang sudah mapan dalam melaksanakan tugasnya. Salah satu fokus kami adalah belajar tentang Pendidikan Khas Kejogjaan," ujar Ahmad Anfasul Marom.
Anfasul Marom menegaskan bahwa materi dan skema PKJ tidak akan diadopsi secara mentah, melainkan dipelajari metodologinya untuk kemudian dimodifikasi secara kontekstual sesuai dengan karakter, kultur, serta potensi masyarakat Bojonegoro.
"Dari studi tiru tentang Pendidikan Khas Kejogjaan ini diharapkan nanti dapat diterapkan di Bojonegoro dalam bentuk yang sama, dengan modifikasi sesuai dengan kondisi Bojonegoro," jelasnya.
Berangkat dari hasil diskusi dan pengayaan materi di Yogyakarta, Dewan Pendidikan Bojonegoro resmi menggagas lahirnya konsep Pendidikan Khas Jonegoroan. Langkah awal yang disiapkan adalah memetakan dan merumuskan ulang ragam nilai historis, geokultural, serta kearifan lokal Bojonegoro agar dapat diintegrasikan ke dalam iklim pendidikan daerah.
"Kita perlu melihat apa yang menjadi kekhasan Bojonegoro. Nilai-nilai tersebut kemudian perlu dirumuskan agar dapat menjadi bagian dari pengembangan pendidikan di Bojonegoro," tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, memaparkan bahwa riset dan implementasi PKJ di Yogyakarta telah dirintis sejak tahun 2019 atas arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pengembangannya bertumpu pada filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti, yang diturunkan lewat strategi adisi, insersi, hingga integrasi.
Prof. Sutrisna menggarisbawahi bahwa tata kelola pendidikan berbasis muatan lokal memerlukan tahapan terstruktur mulai dari asesmen kebutuhan, penyusunan perangkat ajar, uji coba implementasi, hingga evaluasi berkala.
Menanggapi masukan tersebut, Ahmad Anfasul Marom menyatakan bahwa gagasan Pendidikan Khas Jonegoroan akan segera dikaji secara kolaboratif bersama jajaran akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan di Kabupaten Bojonegoro.
"Ini tentu membutuhkan proses. Kita akan menggali terlebih dahulu nilai-nilai dan kekhasan Bojonegoro, kemudian mengkajinya bersama para pemangku kepentingan pendidikan," katanya.






























