Bayar PBB Pakai Sampah, Cantika Wahono: Bank Sampah Desa Sudu Bisa Jadi Percontohan Bojonegoro
Rabu, 30 September 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, mendapat apresiasi dari Pemerintah dan masyarakat. Dalam Kunjungan Desa Terpadu Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro pada Selasa (29/9/2026), Bank Sampah Berkah di Dusun Bedahan memamerkan skema unik, mengonversi tabungan sampah warga untuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Cantika Wahono sebagai ketua TP PKK Kabupaten beserta jajaran Forkopimca Gayam melihat langsung bagaimana alur pelayanan terpadu mulai dari warga yang datang menyetor sampah terpilah, proses penimbangan dan pencatatan saldo, hingga pemotongan otomatis tabungan untuk pelunasan kewajiban PBB. Skema inovatif ini membantu pemerintah desa dalam efektivitas penarikan PBB sekaligus memudahkan warga menjalankan kewajibannya.
Pada setoran perdana yang digelar pekan sebelumnya, sebanyak 125 dari total 194 nasabah terdaftar telah melakukan transaksi, dengan total sampah terpilah yang terkumpul mencapai 609,4 kilogram. Ke depan, bank sampah ini juga akan membentuk sub-unit usaha daur ulang untuk mengolah limbah plastik menjadi aneka kerajinan tangan.

Cantika memberikan dukungan penuh atas terobosan tersebut. Menurutnya, praktik baik di Desa Sudu membuktikan bahwa sampah yang dipilah tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat. Kata dia, Desa Sudu harus didorong dan siapkan menjadi desa percontohan pengembangan bank sampah di Kabupaten Bojonegoro.
“Model integrasi lingkungan dan kemudahan layanan publik seperti ini bisa direplikasi di desa-desa lain,” ujar Cantika saat meninjau lokasi.
Inisiatif lingkungan berbasis masyarakat ini berjalan melalui pendampingan berkelanjutan oleh Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI) yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Pimpinan Program EMCL, Almaliki Ukay S. Subqy, menyampaikan bahwa pengelolaan bank sampah membutuhkan proses komprehensif agar memberikan dampak jangka panjang. Menurutnya, kesadaran memilah dari rumah merupakan fondasi penting dalam membangun budaya bersih dan bernilai guna. Dia menambahkan, dukungan EMCL terhadap Bank Sampah Berkah merupakan wujud komitmen kami dalam mendorong praktik baik berbasis masyarakat di sekitar wilayah operasi Banyu Urip.
“Kami berharap penguatan kapasitas dan inovasi layanan seperti konversi PBB ini menjadikan bank sampah lebih mandiri, tertata, serta terus memberikan manfaat nyata bagi warga,” tutur pria yang akrab disapa Malik tersebut.
Dukungan serupa ditegaskan oleh Kepala Desa Sudu, Abdul Manan. Ia menilai keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci utama agar kegiatan bank sampah dapat terus berjalan dan berkembang secara konsisten. Dia berharap program ini terus berlanjut dan semakin banyak warga yang bergabung menjadi nasabah.
“Jika masyarakat sudah terbiasa memilah dan menyetorkan sampah dari rumah, tentu pengelolaan lingkungan di desa kita akan jauh lebih baik,” pungkas Abdul Manan.(red/imm)































