Perluas Gerakan Lingkungan, Desa di Bojonegoro Ini Bentuk Pengurus Bank Sampah di 3 Dusun
Rabu, 07 Oktober 2026 15:30 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro - Pengelolaan sampah membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan mengumpulkan dan membuang sampah. Diperlukan pengetahuan, pembagian peran, serta kelembagaan yang mampu memastikan pengelolaan sampah dapat berjalan secara konsisten di tingkat masyarakat.
Semangat tersebut menjadi bagian dari Pelatihan Manajemen Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang dilaksanakan di Balai Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Rabu (07/10/2025).
Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat dan pemerintah desa untuk memperkuat pemahaman mengenai pengelolaan sampah sekaligus membangun sistem yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pelatihan tidak hanya membahas bagaimana sampah dipilah dan dikelola, tetapi juga mengenai pentingnya manajemen dalam menjalankan bank sampah dan TPS3R. Melalui penguatan kapasitas tersebut, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing dalam pengelolaan sampah.
Pelatihan Manajemen Bank Sampah di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. (Aset: Istimewa)
Kepala Desa Sudu, Abdul Manan menyampaikan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung. Menurutnya, keberadaan kelembagaan di tingkat desa maupun dusun menjadi salah satu langkah penting agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sesaat.
“Pengelolaan sampah ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah desa, pengurus, dan masyarakat harus bersama-sama mengambil peran,” ujar Abdul Manan.
Pelatihan juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami lebih jauh mengenai pengelolaan bank sampah dan TPS3R, mulai dari pengorganisasian, pembagian tugas, hingga bagaimana kegiatan tersebut dapat dijalankan secara rutin di masyarakat.
Salsa Revianur Pradina dari Tim Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI) menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai yang diinisiasi ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama YDTI.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada peserta agar pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
“Pengelolaan sampah bukan hanya soal sampahnya, tetapi juga bagaimana sistemnya dibangun. Siapa yang mengelola, bagaimana pembagian tugasnya, bagaimana sampah dipilah, dan bagaimana kegiatan tersebut bisa terus berjalan,” tutur Salsa.
Menurutnya, penguatan kelembagaan menjadi salah satu kunci agar kegiatan pengelolaan sampah dapat berkembang dan tidak bergantung pada satu atau dua orang saja. Ketika sudah ada pengurus dan pembagian peran yang jelas, masyarakat akan lebih mudah terlibat.
“Harapannya, bank sampah dan TPS3R ini bisa menjadi sistem yang berjalan bersama masyarakat, bukan hanya kegiatan yang dilakukan ketika ada program,” tuturnya.
Salah satu pencapaian penting dari kegiatan tersebut adalah terbentuknya pengurus Satgas TPS3R yang akan menjadi bagian dari penggerak pengelolaan sampah di tingkat desa.
Pembentukan Satgas TPS3R menjadi langkah penting untuk memperkuat pengelolaan sampah secara lebih terorganisasi. Dengan adanya pengurus, kegiatan pengelolaan diharapkan memiliki pembagian tugas yang lebih jelas dan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menghasilkan capaian lain berupa terbentuknya pengurus bank sampah di tiga dusun yakni Dusun Tenggor, Dusun Kembangan, dan Dusun Alas Mati
Pembentukan pengurus di tiga dusun tersebut menjadi langkah untuk memperluas gerakan pengelolaan sampah agar tidak hanya terpusat di satu wilayah. Dengan semakin banyak dusun yang memiliki pengurus bank sampah, masyarakat memiliki ruang yang lebih dekat untuk mulai memilah dan menyetorkan sampah dari rumah.
Menurut Salsa, terbentuknya pengurus baru tersebut menjadi salah satu langkah penting dari proses penguatan pengelolaan sampah di Desa Sudu.
“Ini menjadi awal yang baik karena semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah,” kata Salsa.
Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mulai membangun kelembagaan yang menjadi penggerak di tingkat desa dan dusun.
Terbentuknya Satgas TPS3R serta pengurus bank sampah di Dusun Tenggor dan Kembangan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah mulai diarahkan menjadi gerakan yang lebih luas. Dari pelatihan, lahir pengurus. Dari pengurus, diharapkan lahir kebiasaan baru di masyarakat.
Pimpinan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy, mengapresiasi komitmen warga dan Pemdes Sudu dalam membangun fondasi kelembagaan yang kokoh. Menurutnya, kunci keberhasilan pengolahan sampah berbasis komunitas terletak pada kesiapan sumber daya manusia yang mengelolanya.
“Perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat butuh wadah yang terorganisasi dengan baik,” ujar pria yang akrab disapa Malik ini.
Kata Malik, pembentukan Satgas TPS3R dan pengurus bank sampah di Dusun Tenggor, Kembangan, dan Alas Mati ini adalah langkah strategis. EMCL berkomitmen untuk terus mendampingi penguatan kapasitas warga agar fasilitas pengolahan sampah ini tidak hanya mengurangi beban limbah lingkungan, tetapi juga memberi dampak sosial-ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi Desa Sudu.
Melalui perluasan struktur ini, masyarakat di tiap dusun kini memiliki akses yang lebih dekat untuk memilah dan menyetorkan sampah dari rumah.
“Ke depan, pengurus yang baru dilatih akan memimpin operasional penimbangan, pencatatan administrasi, hingga integrasi pemanfaatan sampah guna mendukung kesejahteraan warga setempat,” kata Malik. (red/imm)
Editor: Imam Nurcahyo
Publisher: Imam Nurcahyo