Optimasi Data Desa Pemkab Blora Libatkan Belasan Ribu ASN untuk Tekan Angka Kemiskinan
Rabu, 22 April 2026 16:00 WIBOleh Tim Redaksi
Blora - Pemerintah Kabupaten Blora melakukan terobosan besar dalam upaya validasi data kemiskinan dengan merencanakan mobilisasi seluruh aparatur sipil negara di lingkungannya. Kebijakan ini diambil guna memastikan intervensi program pembangunan dan pengentasan kemiskinan berangkat dari angka yang presisi serta benar-benar mencerminkan realitas di tingkat akar rumput.
Bupati Blora, Arief Rohman, mengungkapkan strategi tersebut saat meresmikan dimulainya program Desa Cinta Statistik atau Desa Cantik tahun 2026. Menurutnya, potensi sumber daya manusia yang dimiliki pemerintah daerah sangat besar untuk membantu proses pemutakhiran data sosial ekonomi masyarakat secara menyeluruh di seluruh wilayah desa.
“Di Blora ada sekitar 11.000 ASN. Nantinya akan kita formulasikan agar bisa terlibat dalam pendataan, sehingga data kemiskinan dan pengangguran benar-benar presisi dan sesuai kondisi di lapangan,” ujar Bupati Arief, Selasa (21/04/2026).
Ia menjelaskan bahwa sinkronisasi data merupakan kunci agar program bantuan pemerintah tidak salah sasaran. Dengan menjadikan desa sebagai subjek utama pembangunan, maka segala perencanaan teknis harus bertumpu pada indikator riil yang dihimpun langsung dari lapangan dan diselaraskan dengan standar Badan Pusat Statistik.
“Basis data semuanya dari desa. Nanti kita selaraskan, modul apa yang bisa diterapkan. Harapannya, seluruh desa di Blora dapat menerapkan Desa Cantik Statistik,” katanya.
Kepala BPS Blora, Rukhedi, turut menyoroti tantangan yang dihadapi aparat desa dalam mengelola beragam aplikasi pendataan dari berbagai instansi. Baginya, standardisasi dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa menjadi kebutuhan mendesak agar data yang dihasilkan berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Selama ini banyak lembaga mengambil data dari desa dengan berbagai aplikasi. Namun, kemampuan SDM desa belum tentu memadai untuk mengelolanya. Karena itu, perlu standarisasi dan penguatan kapasitas,” ujarnya.
Program Desa Cantik ini tidak hanya bertujuan melakukan pendataan, tetapi juga membangun literasi statistik di masyarakat desa serta membentuk agen-agen statistik lokal. Tahapan pendataan lapangan dijadwalkan berlangsung mulai Mei hingga Juli 2026, dengan tiga desa percontohan awal yakni Desa Kapuan, Desa Gayam, dan Desa Bogowanti.
Bupati Arief berharap model pendataan berbasis desa ini dapat direplikasi ke seluruh kecamatan di Kabupaten Blora. Langkah ini sejalan dengan tren positif penurunan angka kemiskinan di Blora yang tercatat terus menyusut hingga mencapai angka 10,58 persen pada tahun 2025.
“Ke depan, saya ingin ada desa percontohan di setiap kecamatan. Ini nanti bisa disinergikan dengan program Kecamatan Berdaya dari provinsi,” ujarnya.(red/toh)




























.md.jpg)


