News Ticker
  • Wihadi Wiyanto Jabat Presiden Klub Persibo, Targetkan Lolos ke Liga 2
  • 4 Pasangan Bukan Suami Istri Terjaring Razia Kos-kosan Satpol PP Bojonegoro
  • Godok Raperda CSR, Pemkab dan Bapemperda DPRD Bojonegoro Selaraskan 10 Bidang Program Pertanggungjawaban Perusahaan
  • Tingkatkan Kapasitas Pelaku IKM Gerabah Rendeng, Pemkab Bojonegoro Dorong Inovasi dan Estetika Keramik Batik
  • Produk Kerajinan Tangan Karya Perempuan Bojonegoro Pikat Pengunjung Lokakarya Media Jabanusa di Yogyakarta
  • Ketika TikTok Mulai Mendiagnosis Kita
  • Gali Potensi Sejarah Lokal, Disbudpar Bojonegoro Gelar Lomba Esai Sejarah Desa Berhadiah Rp10 Juta
  • DKPP Bojonegoro Targetkan Pembangunan 27.500 Meter Jalan Usaha Tani untuk Dorong Efisiensi Pertanian
  • SKK Migas Jabanusa Gelar Lokakarya Media 2026, Dorong Kemandirian Berkelanjutan Masyarakat
  • Dukung UMKM Penjahit Naik Kelas, Bupati Blora Resmikan Sentra ZMODIS dan Dorong Pemasaran Digital
  • Satu Korban Kebakaran Rumah di Dander, Bojonegoro Meninggal Dunia di IGD RSUD
  • Rumah Warga Dander, Bojonegoro Ludes Terbakar Akibat Kompor yang Lupa Dimatikan
  • Wabup Blora Buka Profiling ASN di Kanreg I BKN Yogyakarta, Tekankan Pentingnya Pemetaan Kompetensi
  • 17 September dalam Catatan Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 17 September 2026
  • Perkuat Legalitas Aset di Bojonegoro, KAI Daop 8 Terima 18 Sertipikat Elektronik Senilai Rp142,16 Miliar
  • Komitmen Lindungi Pekerja Informal, Bojonegoro Raih Peringkat Ke-2 Jamsostek Award 2026 Jatim
  • Antisipasi Dampak Kemarau Panjang, Pemkab dan Kecamatan Purwosari Petakan 3 Skenario Irigasi Pertanian
  • Buka FGD Raperda Trantibum Linmas, Bupati Setyo Wahono Tegaskan Regulasi Harus Efektif dan Akomodatif Bagi Warga
  • Raker Bersama Komisi II DPR RI, Gubernur Khofifah Minta Keseimbangan LP2B dan Investasi Industri Manufaktur Jatim
  • Peringati Hari Koperasi ke-79, Bupati Setyo Wahono Salurkan 1.000 Paket Sembako di Tambakrejo
  • 16 September: dalam Catatan Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro16 September 2026
  • Tidur di Kamar Terang Berdampak Buruk bagi Jantung, Studi Temukan Risiko Penebalan Otot Jantung
Kampung Inggris Juga Ada di Desa Wadang

Berpakansi ke Ngasem

Kampung Inggris Juga Ada di Desa Wadang

Oleh Nasruli Chusna

Ngasem - Bagi pecinta bahasa Inggris, siapa yang tidak tahu kampung Inggris, Pare, Kediri. Sudah tak terhitung banyaknya orang yang berbondong-bondong datang ke sana untuk mempelajari bahasa internasional itu. Beragam program dan lembaga kursus tersedia untuk menjawab kebutuhan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Keberhasilan peraih penghargaan tokoh pendidikan era SBY, Mister Kalend, itu mulai diikuti oleh berbagai daerah termasuk Bojonegoro, yang kini menjadi salah satu pusat industri minyak dan gas bumi (migas) dalam negeri. Kampung Inggris tersebut terdapat di Desa Wadang, Kecamatan Ngasem.

Kamis (23/10) sekitar pukul 12.30 WIB siang, wartawan beritabojonegoro.com (BBC) harus bertanya lebih dari tiga kali agar sampai ke Desa Wadang. Jalan paving yang tidak rata sesekali jadi gangguan. Dengan arahan dari Kepala Desa setempat sampailah pada gang kecil berpedel. Dari mulut gang tampak sebuah bangunan setengah jadi. Di salah satu sisi dindingnya terpasang spanduk bertuliskan Andalusia English Course (AEC).

Di dalam ruangan berukuran 4x5 meter itu tiga orang siswa dan seorang tutor tengah asyik berbincang. Percakapan mereka menggunakan bahasa Inggris. Mereka ternyata sedang melakukan pembelajaran untuk program Basic English. Suasana pembelajaran berlangsung akrab. Kesan adanya guru dan murid sama sekali tidak terasa.

"Kami bertiga tidur di sini. Yang putri ada dua anak juga tidur sini. Biar lancar berbahasa, kami tiap hari bercakap-cakap dengan bahasa Inggris. Untuk bahasa Arab masih belum," kata seorang siswa, Khuzain ketika ditemui BBC.

Di samping bangunan setengah jadi itu terdapat sebuah rumah. Di depan teras terpasang luku (alat membajak sawah) dari jati kuno sebagai pajangan. Setelah mengucap salam dan menunggu beberapa saat muncul seorang pria yang segera mempersilakan BBC masuk dengan ramah. Dia adalah Ahmad Syahri (33), pendiri AEC sejak setahun yang lalu. Bersama istrinya dia mengajar bahasa Inggris pada anak-anak sekitar Ngasem, serta beberapa dari Kecamatan Kapas dan Baureno. Hal itu dilakukannya sembari menjadi guru di salah satu yayasan di desa setempat.

"Dulu saya belajar lama di Pare langsung kepada Mr Kalend. Apa yang dilakukan beliau dulu, inilah yang saya lakukan di sini," jelas pria yang juga mahir terapi hipnoteraphy itu.

Pada BBC dia mengatakan bahwa secara legal formal kelembagaan kursus yang didirikannya belum diurus. Bagi bapak dua anak tersebut yang terpenting adalah terasa manfaatnya terlebih dulu. Biaya yang diperlukan agar dapat belajar di tempatnya juga masih sukarela. Menurut hematnya hal yang paling dasar yang perlu dibangun adalah eksistensi terlebih dulu. Semua itu dia pelajari ketika menimba ilmu di Pare.

Dia menambahkan bahwa sistem pengajaran maupun materi juga diadopsi dari Pare. Perjalanannya mengelola kursusan selama setahun, dianggapnya belum apa-apa. Karena tujuan utamanya, lanjut dia, adalah membumikan bahasa agar lebih mudah dipelajari. Dimana bahasa merupakan kunci untuk mereguk nikmatnya samudra ilmu.

"Untuk mempromosikan secara besar-besaran bagi saya juga belum perlu. Yang penting kita ada kegiatan, istiqomah dan berprinsip bahwa ini merupakan lahan perjuangan," tandas pria yang pernah menjabat sebagai Ketua PAC Anshor Kecamatan Ngasem itu.

Selain bahasa Inggris dia juga membuka kelas bahasa Arab. Adapun sebagai pengarah program ini adalah sang istri yang merupakan jebolan sastra Arab Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Kepala Desa Wadang, Ya'qub, mengatakan sangat mendukung dengan kegiatan anak-anak di AEC. Bahkan dia juga mengakui, kualitas anak didik di tempat tersebut dapat diandalkan. Pria berkulit sawo matang itu mengaku pernah menyaksikan sendiri keterampilan berbahasa Inggris mereka.

"Saya sangat salut dengan kegiatannya karena dilakukan dengan bahasa Inggris. Seperti ngaji dan pentas seni gitu mereka pakai bahasa Inggris," pungkasnya. (rul/tap)

 

*) Foto para siswa kampung inggris di desa wadang, ngasem

 

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Opini

Ketika TikTok Mulai Mendiagnosis Kita

Opini

Ketika TikTok Mulai Mendiagnosis Kita

PERNAH nggak sih kamu sedang mengusap layar ponsel, lalu menemukan video tentang tanda-tanda suatu kondisi kesehatan yang terasa, Loh, ini ...

Sosok

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional

Bojonegoro - Di tengah gempuran arus budaya modern, kepedulian terhadap pelestarian kesenian tradisional ditunjukkan oleh Ki Ngesti Adi Anggoro, seorang ...

Infotorial

Dari Peserta Magang Menjadi Operator, Kisah Anak Bojonegoro di Lapangan Gas JTB

Dari Peserta Magang Menjadi Operator, Kisah Anak Bojonegoro di Lapangan Gas JTB

Bojonegoro - Delapan tahun lalu, sebanyak 108 putra-putri terbaik Bojonegoro memulai langkah kecil sebagai peserta Program Apprentice SKK Migas bersama ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1789776434.212 at start, 1789776434.4129 at end, 0.20086193084717 sec elapsed