Efektif Redam Kekeringan di 24 Daerah, OMC Jatim Pancing Hujan di 11 Titik Sasaran
Rabu, 09 September 2026 14:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mempercepat penanganan bencana kekeringan yang menimpa 24 kabupaten/kota. Langkah taktis yang dipadu dengan pemantauan BMKG ini tercatat berhasil memicu guyuran hujan di 11 titik pada enam kabupaten target.
Berdasarkan pemantauan alat Automatic Rain Gauge (ARG) hingga 6 September 2026, hujan intensitas ringan hingga sedang telah membasahi kawasan terdampak di Kabupaten Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengonfirmasi bahwa penyemaian bahan semai di udara memberikan hasil yang terukur bagi ketersediaan air pasokan darat.
"Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas," kata Khofifah, Selasa (08/09/2026) kemarin.
Khofifah menambahkan, selain membantu penanganan pasokan air bersih, curah hujan pancingan tersebut efektif menekan potensi timbulnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan rawan Jawa Timur.
Operasi hasil kolaborasi Pemprov Jatim, Kementerian Kehutanan, BMKG, serta BPBD Jatim ini telah merampungkan empat kali penerbangan sepanjang 3 hingga 6 September 2026. Sebanyak 3,2 ton atau 3.200 kilogram Natrium Klorida (NaCl) telah disebar mengitari zona awan potensial dari kawasan Malang, Batu, Probolinggo, hingga Banyuwangi.
Kabupaten Lumajang tercatat menjadi area penyerapan hujan terbanyak. Hujan sedang terkonfirmasi membasahi wilayah Pronojiwo, disusul hujan ringan di Pasrujambe, Pasirian, serta Jokarto.
Khofifah menegaskan bahwa OMC berjalan beriringan dengan penyaluran bantuan fisik darat, seperti pendorongan armada tangki air bersih, pengadaan tandon penampungan, hingga optimalisasi sumur warga. Evaluasi OMC selanjutnya akan terus digelar secara situasional mengikuti perkembangan pergerakan awan dari BMKG.































