News Ticker
  • Resmikan Pusat Riset Pesantren, Gubernur Khofifah Salurkan Beasiswa untuk 1.100 Santri Jatim
  • Tingkatkan Tertib Administrasi Digital, DWP Bojonegoro Gelar Bimtek Updating E-Reporting
  • Jurnalis Bojonegoro Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan yang Hilang saat Liputan Bencana Anak Krakatau
  • Tekan Angka Kecelakaan Hingga Hemat Biaya Orang Tua, Pemkab Bojonegoro Optimalkan Layanan Angkutan Pelajar Gratis
  • 11 September dalam Catatan Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 11 September 2026
  • Diduga Akibat Bediang, Dapur dan Kandang Sapi Milik Warga Malo, Bojonegoro Terbakar
  • Kekeringan Meluas ke 60 Desa, Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro Salurkan Bantuan Air Bersih di Sumberrejo
  • Dorong Pemuda Mandiri Berkarya, Pemkab Bojonegoro Tutup Bootcamp Ekonomi dan Fasilitasi Legalitas Usaha
  • Kekeringan Meluas di 72 Desa, Wabup Nurul Azizah Minta BPBD Bojonegoro Cepat Tanggap dan Jangan Terpaku Administrasi
  • Rehab Fasad Hingga Pembangunan Menara 42 Meter, Pemkab Bojonegoro Perbuat Wajah Masjid Agung Darussalam
  • Misi Dagang Jatim-Kaltara Tembus Rp2 Triliun, Pemprov Jatim Perkuat Antarpulau dan Ketahanan Pangan
  • Tersengat Listrik Jebakan Tikus di Sawah, 2 Perempuan di Kasiman, Bojonegoro Meninggal
  • Daftar Negara dengan Sistem Kesehatan Terbaik Dunia 2026 versi CEOWorld Index
  • 10 September dalam Catatan Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 10 September 2026
  • Waspadai Bahaya Radiasi Layar Gawai, Jaga Mata Yuk!
  • Efektif Redam Kekeringan di 24 Daerah, OMC Jatim Pancing Hujan di 11 Titik Sasaran
  • Sasar Puluhan Toko di Tambakrejo, Tim Gabungan Bojonegoro Nihil Temuan Rokok Ilegal
  • Polres Bojonegoro Upayakan Restorative Justice Kasus Petani Suginanto, Perhutani KPH Padangan Tegas Menolak
  • Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional
  • Kasus Dua Batang Kayu Jati Petani Ngraho, Lidah Tani Dorong Penyelesaian Hukum Berkeadilan
  • 09 September dalam Catatan Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 09 September 2026
Sejarah Pinggiran dan Buku Kertas Buram

Tentang Kho Ping Hoo dan Karyanya

Sejarah Pinggiran dan Buku Kertas Buram

Oleh Mohamad Tohir

1

SAYA ingin bercerita tentang Kho Ping Hoo. Seorang pengarang yang namanya lebih tenar dari pada buku-buku karyanya. Para pembacanya lebih terbiasa menyebut 'membaca Kho Ping Ho' dari pada menyebut judul karyanya. Bisa jadi ini menandakan kebesaran si penulis. Bisa jadi juga, ini karena saking banyaknya buku yang ditulis sampai-sampai sulit untuk disebutkan. Atau bisa jadi juga karyanya tidak begitu bagus. Tapi untuk bilang karya Kho Ping Hoo tidak bagus, itu nanti dulu.

Dia menulis ratusan judul buku. Dan tiap judul bahkan berjilid-jilid, bisa sampai 25 jilid. Meski tidak bisa kita bayangkan bahwa setiap jilid adalah buku-buku tebal.

Eka Kurniawan, sastrawan muda yang mulai diperbincangkan namanya di kancah sastra dunia ini, mengaku pengagum berat Kho Ping Hoo. Secara nakal, dia menyebut bahwa membaca karya tiga penulis ini, sudah cukup untuk ‘memasuki rimba kesusastraan Indonesia’. Ketiganya adalah Pramoedya Ananta Toer, Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap. Kata Eka, “harta karun kesusastraan Indonesia saya terletak di novel-novel picisan yang tak terlalu dianggap oleh kritikus sastra, para akademisi, bahkan oleh para sastrawan,”(simak;ekakurniawan.com/ tag;Abdullah Harahap).

Taruhlah pendapat penulis Cantik Itu Luka itu terlalu subjektif dan berlebihan. Tapi bagaimanapun, membincang cerita silat, tidak bisa tidak, orang harus mempertimbangkan Kho Ping Hoo. Dia jauh lebih dulu ketimbang yang datang belakangan, seperti SH. Mintardja (Api di Bukit Menoreh), S. Tidjab (Tutur Tinular), Tito Bastian (Wiro Sableng), Motinggo Busye (Tujuh Manusia Harimau), Arswendo Atmowiloto (Senopati Pamungkas), dan belakangan Seno Gumira Ajidarma (Nagabumi. Cersil bersambungnya ‘Naga Jawa-Pendekar Atap Langit’ muncul bersambung di sebuah harian nasional belakangan ini).

Ketidakpopulerannya sebenarnya hanyalah soal posisi saja. Karyanya tidak ada yang masuk di penerbit besar. Semuanya dicetak dengan kertas buram dan sampul HVS biasa oleh penerbit di Surakarta. Dia berada di kutub berbeda dengan Balai Pustaka yang plat merah yang kemunculannya sebagai corong kolonial di zaman itu. Karena itulah dia tidak masuk kanon. Tidak ada namanya disebut dalam daftar angkatan-angkatan itu. Bukunya bertebaran secara murah dan banyak bukan di toko buku besar dan elit. Bukunya ada di lapak-lapak buku bekas dan kios pinggir jalan. Namun justru itu itu yang menjadi nilai plus Kho Ping Hoo. Karyanya menjangkau rakyat bawah lebih luas.

Tentang ini, Seno, dalam pengantar untuk cerbungnya di sebuah harian Nasional, menulis bahwa fenomena itu adalah sebuah mitos yang semestinya sudah tidak lagi berlaku. Yakni bahwa karya sastra itu semestinya tinggi. Dan pada penentuan mana yang tinggi inilah terjadi semacam pengambilan posisi yang politis. Akhirnya akan ada yang direndahkan dan kemudian pada akhirnya tidak dianggap sama sekali.

Namun bukan berarti mitos itu harus dibalik. Cukuplah ditunjukkan bahwa mitos itu memang hanyalah sekadar mitos. Yang tinggi dan yang rendah, apapun itu, adalah karya sastra. Dan karena itu, mereka adalah teks.

Untuk menakar bobot dan kualitasnya, tidak bisa tidak, orang harus membacanya. Orang harus mempertimbangkan karya itu sendiri. Di tempat inilah sebuah karya akan diuji, ditakar bandingkan, diperdebatkan, sekaligus dihujat.

 

2

Adalah keniscayaan, bahwa membaca Kho Ping Hoo, atau cerita silat, adalah juga membaca sejarah Nusantara. Bukan hanya Kho Ping Hoo saja tentu, penulis cersil lain juga. Seno, bahkan, untuk menulis cersil bersambungnya di sebuah harian nasional, dia rela bolak-balik Tiongkok-Jakarta demi akurasi data. Di salah satu judul karyanya (yang kesemuanya ada 22 jilid) Sang Megatantra, fakta sejarah Kerajaan Kahuripan menjadi latar peristiwa di sepanjang cerita. Dikisahkan bahwa terjadi pemberontakan kepada Kahuripan yang rajanya adalah Erlangga oleh saudaranya sendiri, Pangeran Hendratama. Disebutkan juga, di masa inilah kakawin Arjunawiwaha ditulis oleh Mpu Kanwa. Kitab ini berisi kisah perkawinan Arjuna putra Pandu yang ditulis Mpu Kanwa untuk membakar semangat pejuang dan raja.

Latar peristiwa itu diterangkan jelas oleh narator secara singkat pada halaman 29-32 di jilid 2. “Dalam pergolakan yang ditimbulkan akibat permusuhan Sang Prabu Erlangga dengan Kerajaan Wengker, Kerajaan Wurawari, dan Kerajaan Ratu Durgamala atau yang lebih dikenal dengan Kerajaan Parang Siluman itulah cerita ini terjadi.”

Dikisahkan bahwa raja Erlangga adalah raja yang adil bijaksana, tidak sewenang-wenang, tidak memikirkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri. “Raja Erlangga tidaklah demikian, dia seorang raja bijaksana yang memperhatikan kepentingan dan kemakmuran rakyat jelata... Bukan hanya kemakmuran rakyat yang dia perhatikan. Raja Erlangga juga memperhatikan kemajuan kebudayaan. Dia mendukung majunya kesusastraan dan kesenian. Dalam jamannyalah karya sastra yang indah, yaitu kakawin ‘Arjuna Wiwaha’ ditulis...

 

3

Sebagai pembaca yang miskin kaca mata, saya selalu beresiko ketika menghadapi sebuah karya fiksi. Semacam ada pertanyaan seperti ini, “ini kisah nyata apa nggak ya?” “Si cantik dalam novel ini apanya si penulis ya?” Maka, kaitannya dengan karya cersil Kho Ping Hoo, pertanyaan itu juga muncul. Apakah kebenaran yang dibeber dalam karya itu akurat? Misalnya dalam hal ini adalah tentang dialog-dialog Raja Erlangga dengan Narotama. Apakah dialog mereka benar adanya sebagaimana yang terjadi sebenarnya? Atau misal lain, fakta bahwa Raja Erlangga mempersunting dua putri kerajaan Ratu Siluman itu benar adanya? Ataukah hanya sebatas bumbu cerita saja? Di sinilah barangkali kesaktian dan harga diri pengarang dipertaruhkan....

Tapi, bagaimanapun itu, dari pembacaan pada cerita silat ini, ada beberapa catatan yang secara serampangan saya coba buat berkenaan dengan fakta sejarah itu. Pertama, fakta sejarah merupakan ladang subur bagi penulis cerita silat. Di sini nampaknya menemukan fungsinya sebagai penguat cerita fiksi yang dibuatnya. Keris sang megatantra yang notabene hanya fiktif, menjadi nampak benar-benar anda karena dibalut dengan bentangan fakta sejarah. Begitu juga tokoh-tokoh fiksi yang ada dalam cerita itu sendiri.

Kedua, nampaknya, seperti halnya penulis cerita silat lainnya, Kho Ping Hoo seperti hendak mengatakan bahwa peristiwa sejarah tidak melulu berpusat di kalangan istana saja. Karena itulah dia membangun tokoh-tokoh utamanya yang dalam novel ini, seorang pemuda biasa yang bekerja sebagai buruh tani di desa.

Ketiga, saya memahami bahwa penulisan fakta sejarah di dalam sebuah karya fiksi, dalam karya Kho Ping Hoo ini, adalah upaya untuk membuat semacam perspektif sejarah. Bukan sejarah itu sendiri. Karenanya, bila sebagai pembaca saya berkutat pada pertanyaan akurasi sejarah di dalamnya, nampaknya tidak menemukan relevansinya. Bila akurasi fakta sejarah saya kejar, maka yang saya incar harusnya adalah apa yang menjadi asupan atau referensi Kho Ping Hoo.

Bagaimanapun itu, membaca Kho Ping Hoo itu nikmat. Nikmat yang sulit untuk dijelaskan. Inilah komentar paling sempit dari sebuah pembacaan. Subjektif sekali dan barangkali itulah makam atau kadar pembacaan saya. Begitu...

 

Foto : www.wayang.co.id

 

 

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Opini

Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat

Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat

Pernahkah Anda terbangun di suatu pagi, menatap cermin, dan menyadari bahwa garis-garis halus di wajah bukan sekadar tanda penuaan, melainkan ...

Sosok

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional

Ki Ngesti Adi Anggoro, Dalang Muda Asal Purwosari yang Tekun Rawat Kesenian Tradisional

Bojonegoro - Di tengah gempuran arus budaya modern, kepedulian terhadap pelestarian kesenian tradisional ditunjukkan oleh Ki Ngesti Adi Anggoro, seorang ...

Infotorial

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Bojonegoro - Berakhirnya fase pengembangan Proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) pada 2021 menjadi titik balik bagi ratusan pemuda Desa Bandungrejo, ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1789163727.5544 at start, 1789163727.7956 at end, 0.24123215675354 sec elapsed