News Ticker
  • Ajang FASI IX 2026 Resmi Dibuka, 320 Santri Blora Berkompetisi Targetkan Juara Umum Jawa Tengah
  • 27 Juli dalam Sejarah
  • Prakiraan Cuaca Bojonegoro 27 Juli 2026
  • Pemkab Bojonegoro Mulai Revitalisasi Alun-Alun senilai Rp 28 Miliar, Pohon Rindang Dipastikan Tetap Dipertahankan
  • Pemkab Bojonegoro Alokasikan Rp 36,3 M untuk 65 Paket Jembatan Tahun 2026
  • Gelar Rakerda II dan Workshop Menulis Buku, HIMPAUDI Bojonegoro Perkuat Sinergi Dukung Literasi dan Adminduk Anak
  • 26 Juli dalam Catatan Sejarah
  • Prakirakan Cuaca Bojonegoro 26 Juli 2026
  • Film Obession, Horror Kesepian Generasi Saat Ini
  • Bahas Isu Strategis Jatim, Komisi VII DPR RI dan Pemprov Soroti Industri, Pariwisata, hingga UMKM
  • Delapan Makanan Penurun Risiko Stroke Menurut Ahli Kesehatan
  • Truk Molen Tak Kuat Menanjak di Kedewan Bojonegoro, Sopir Meninggal Dunia Tergencet
  • FJTB Desak Presiden Prabowo Minta Maaf ke Insan Pers Buntut Sebutan Londo Ireng
  • Pemkab Bojonegoro Bekali KPM Gayatri Lewat Bimtek Budi Daya Ayam Petelur
  • Kisah Singkat Sosok Mbah Singonoyo, Tokoh Penyebar Islam di Desa Sukorejo
  • Pemdes Sukorejo Gelar Haul Eyang Singonoyo Selama Tiga Hari, Dorong Pelestarian Sejarah dan Gelar Bazar UMKM
  • 25 Juli dalam Catatan Sejarah
  • Prakirakan Cuaca Bojonegoro Sabtu 25 Juli 2026
  • Perkuat Tata Kelola Informasi Publik, Pemkab Bojonegoro dan KI Jatim Gelar SIPINTER Desa
  • Lulusan Bootcamp MC Dinpora Bojonegoro Sukses Unjuk Gigi di Berbagai Event Nasional
  • Kabar Baik bagi Penikmat Kopi, Peneliti Ungkap Minum Kopi Aman dan Sehat untuk Jantung
  • Sedekah Bumi Warga Kelurahan Sumbang, Gelar Pengajian Umum dan Bazar UMKM
  • BAZNAS RI dan Pemprov Jatim Perkuat Sinergi Pengelolaan Zakat untuk Pengentasan Kemiskinan
  • Petani Bojonegoro Terima Bantuan Alsintan hingga Asuransi Tani
Siddharta dan Sebuah Pencarian

Resensi Novel Siddharta Karya Hermann Hesse

Siddharta dan Sebuah Pencarian

Oleh Heriyanto

INI hari Waisak, hari raya umat Buddha. Tiba-tiba saya teringat dengan sebuah buku berjudul Siddharta. Siapa Siddharta? Siddharta adalah sang Buddha itu sendiri, lengkapnya Siddharta Gautama. Namun Siddharta dalam novel ini bukan yang itu, melainkan seorang lelaki yang kebetulan punya nama yang sama dengan nama Sang Buddha.

Novel ini ditulis oleh Hermann Hesse, seorang penulis kebangsaan Jerman yang meraih penghargaan Nobel bidang sastra pada tahun 1946. Nobel, bukan main-main. Penghargaan yang cukup prestisius di muka bumi ini yang diberikan oleh Akademi Swedia, merujuk pada nama penggagas awal, Alfred Nobel, ilmuwan penemu dinamit. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang benar-benar berjasa pada kemanusiaan di bidangnya masing-masing, termasuk bidang literatur atau sastra.

Saya menyukai novel ini. Saya baca sekitar dua tahun yang lalu. Namun sayang, buku itu kini hilang entah kemana. Tidak hilang sebenarnya, tepatnya dipinjam teman, tetapi saya lupa siapa yang meminjam. Saya sungguh bodoh memang. Bagaimana tidak bodoh? Gus Dur, pernah menulis pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia tentang orang yang yang meminjamkan buku dan peminjam yang mengembalikannya. Gus Dur menulis bahwa orang yang meminjamkan buku itu bodoh. Tapi seorang peminjam buku yang mengembalikan buku pinjamannya itu lebih parah lagi. Dia orang gila, kata Gus Dur. Sudah ah. Sedih rasanya.

Siddharta dalam novel ini adalah seorang lelaki muda yang haus akan kepuasan spiritual. Dia meminta ijin pada ayahnya untuk mencari ketenangan batin. Pada saat itu ada banyak orang serupa, para pencari ketenangan batin. Mereka adalah orang-orang yang frustasi dengan hidup yang lucu tolol dan penuh tipu muslihat. Mereka bertapa di hutan menenangkan hati mencari kekuatan spiritual. Nah Siddharta terinspirasi oleh mereka. Sebab dia juga merasakan hidupnya hampa. Ayahnya kaya dan apa yang dia mau dia bisa dapatkan. Tapi ada sesuatu yang sepertinya berlubang dalam dadanya.

Kisahnya mirip Siddharta Gautama Sang Buddha itu bukan? Tapi tetap ini bukan Siddharta yang Sang Buddha itu. Ini tetap Siddharta yang lain. Pencarian yang dilakukannya berbeda jalan dengan Sang Buddha. Bahkan, dalam pencariannya di hutan kelak, dia bertemu dengan Siddharta Gautama itu. Dia bahkan merasa tidak puas dengan ajaran Gautama. Kembali pada sang ayahnya tadi. Ayahnya akhirnya mengijinkan, meskipun butuh waktu yang lama unttuk berkata iya. Bayangkan saja, ada orang kaya kemudian anaknya minta ijin kepadanya untuk hidup susah. Susah bukan?

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah yang itu tadi, dimulai dari keinginan Siddharta untuk melakukan pencarian spiritual. Ditemani sahabtanya bernama Govinda, akhirnya mereka bekumpul dengan para pertapa di hutan. Di sana dia mendengar nama Sang Buddha dan akhirnya mereka bertemu. Mereka berdialog dan Siddharta merasa tidak puas dengan ajaran Sang Buddha. Akhirnya Siharta memilih untuk tidak mengikuti ajaran Sang Buddha. Sementara Govinda memutuskan menjadi murid Sang Buddha. Tidak dengan Siddharta, dia meneruskan pencariannya sendiri. Bagian pertama berakhir di sini.

Pada bagian kedua, dijelaskan pencarian selanjutnya Siddharta. Bukannya bertapa sebagaimana para pencari ketenangan batin lainnya. Siddharta malah hidup bergeimang duniawi. Dia bertemu seorang perempuan penghibur alias pelacur kelas kakap dan cantik jelita bernama Kamala. Siddharta berguru pada Kamala. Bahkan hidup serumah pada akhirnya, dengan syarat Sidhata mampu membelikan pakaian mewah dan uang yang banyak. Siddharta yang pandai betsyair, menulis, tidak berarti apa-apa. Dia harus mencari uang dengan bekerja keras saupaya bisa memenuhi sayarat Kamala. Dia akhirnya bekerja sebagai pedagang, menjadi anak buah pedagang besar bernama Kamaswami. Siddharta akhirnya bisa kaya dan mencukupi kehidupan seorang pelacur kelas kakap macam Kamala.

Bagian kedua ini berakhir pada suatu masa dimana Siddharta menemui titik jenuh. Dia merasa apa yang dilakukannya itu hambar. Akhirnya dia meninggalkan kehidupannya, Kamaswami dan Kamala juga, yang ternyata tengah mengandung anaknya.

Masuk pada bagian tiga. Dalam pencariannya kali ini Siddharta bertemu dengan seorang tukang perahu. Mereka akhirnya tinggal bersama dan Siddharta jadi tukang perahu juga yang  pekerjaannya menyeberangkan orang-orang ke seberang sungai.  Di sinilah terjadi banyak perenungan-perenungan tentang kehidupannya yang terdahulu. Di sini juga dia kembali bertemu dengan Kamala dan anaknya. Kemala mati kena gigitan ular pada suatu kali dan Siddharta hidup bersama anak kandungnya itu. Tapi keduanya tidak cocok hingga kemudian sang anak meninggalkan Siddharta.

Pada akhirnya Siddharta menemukan pencariannya. Itu dirasakan oleh Govinda yang pada suatu waktu mereka bertemu kembali. Govinda yang saat itu menjadi murid Sang Buddha bisa memahami itu. Memahami bahwa pencarian spiritual Siddharta telah sampai pada titik tertentu yang sama dengan ajaran Sang Buddha.

Terlalu sulit bagi saya untuk membuat semacam kesimpulan isi buku ini. Tapi begitulah ceritanya tadi, tentang perjalanan Siddharta. Yang saya ceritakan ini hanya ceritanya saja, urutan perjalanannya. Bukan isi buku itu sendiri. Gaya bahasa dan pesan-pesan spiritual yang terbungkus halus lewat dialog-dialog, perenungan, dan tindakan sepanjang cerita tidak bisa saya ungkapkan kembali di sini. Tapi satu yang saya garis bawahi, pencarian spiritual tidak hanya dengan cara hidup susah anti duniawi. Kerja keras tak kenal lelah itu adalah caranya, meski batas akhirnya kita sendiri tidak penah tahu. Sebuah pencarian, itulah yang terpenting.

Itu bukan menyimpulkan. Terlalu sederhana dan simpel takutnya. Bacalah sendiri. Belilah bukunya. Jangan pinjam. Ingat sebagaimana pesan Gus Dur tadi, meminjam buku itu membuat orang yang dipinjami jadi bodoh. Jangan dianggap serius. Itu hanya joke. Begitu...

 

Judul : Siddhartha
Penulis : Hermann Hesse
Penerbit : Bentang Pustaka

Berita Terkait

Videotorial

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Berita Video

Penyemayaman Api Abadi Hari Jadi Bojonegoro Ke-348 di Pendopo Malowopati

Bojonegoro - Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, didampingi Wakil Bupati Nurul Azizah dan Ketua DPRD Abdulloh Umar, bersama jajaran Forkopimda Bojonegoro ...

Opini

Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat

Merayakan Detik Ini: Menemukan Kedamaian dalam Jejak Hidup yang Singkat

Pernahkah Anda terbangun di suatu pagi, menatap cermin, dan menyadari bahwa garis-garis halus di wajah bukan sekadar tanda penuaan, melainkan ...

Sosok

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bocah 9 Tahun Asal Bojonegoro Jago Otak-Atik Elektronik, Bercita-cita Jadi Insinyur

Bojonegoro - Berbeda dari anak-anak seusianya, seorang bocah dari Desa Growok, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini justru memiliki minat besar ...

Infotorial

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Dari Ladang Migas ke Ladang Wirausaha: Jejak Nyata PEPC Zona 12 Membangun Kemandirian Desa

Bojonegoro - Berakhirnya fase pengembangan Proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) pada 2021 menjadi titik balik bagi ratusan pemuda Desa Bandungrejo, ...

Wisata

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Pemkab Launching Kalender Event 2026 dan Mars Bojonegoro

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, pada Rabu malam (18/03/2026), bertempat di Jalan Mas Tumapel Bojoonegoro, melaunching Kalender Event Bojonegoro ...

1785119448.9165 at start, 1785119449.1411 at end, 0.22459983825684 sec elapsed