Perhutani Bojonegoro Diskusi Bareng Pemerhati Lingkungan, Bahas Ancaman Ekologi
Jumat, 03 Juli 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bojonegoro – Tantangan ekologi di daerah menjadi perhatian khusus Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro dalam diskusi bertajuk Ngopi Bareng Pemerhati/Peduli Lingkungan di Kedai Tiga Jaya, Bojonegoro, Rabu (01/07/2026) lalu. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi dengan berbagai elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus mengantisipasi potensi bencana ekologis di wilayah Bojonegoro.
Kegiatan yang mengangkat tema opini Alarm Bencana Ekologis Dimulai dari Bojonegoro Selatan ini dihadiri langsung oleh Administratur KPH Bojonegoro beserta jajaran. Hadir pula pemerhati lingkungan Dian Martha Yuana yang merupakan warga Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, sekaligus aktif di ICMI Orda Bojonegoro. Selain itu, perwakilan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro serta mahasiswa program pascasarjana turut memberikan sumbangsih pemikiran dalam forum terbuka tersebut.
Sejumlah isu krusial dibahas mendalam dalam diskusi ini, mulai dari kondisi riil kawasan hutan saat ini, pelestarian lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, hingga dampak perubahan tutupan lahan terhadap fungsi ekologis hutan. Dialog mengalir interaktif sebagai wadah bertukar gagasan untuk mencari solusi bersama demi keberlanjutan lingkungan hidup di Bojonegoro.
Administratur Perhutani KPH Bojonegoro, Slamet Juwanto, menegaskan bahwa upaya pelestarian hutan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh pemangku kepentingan. Ia menyebutkan bahwa menjaga fungsi ekologis hutan dapat diinisiasi dari langkah-langkah konkret yang sederhana, seperti menjaga sumber mata air, menggencarkan penanaman pohon, dan menumbuhkan kepedulian masyarakat secara kolektif.
Hutan memiliki peran vital sebagai penyangga kehidupan. Karena itu, menjaga kelestariannya tidak bisa dilakukan Perhutani sendiri, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pihak. Kami mengajak pemerhati lingkungan, akademisi, organisasi masyarakat, media, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga hutan demi keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang, ujar Slamet Juwanto.
Di tempat yang sama, Dian Martha Yuana menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Perhutani KPH Bojonegoro yang membuka ruang dialog inklusif bersama masyarakat. Menurutnya, komunikasi yang transparan dan terbuka menjadi langkah awal yang sangat penting dalam merespons berbagai persoalan lingkungan yang kian kompleks belakangan ini.
Dian menyoroti fenomena semakin berkurangnya tutupan tanaman kehutanan akibat dominasi tanaman pangan semusim di sejumlah kawasan hutan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menurunkan fungsi ekologis hutan secara drastis apabila tidak segera diimbangi dengan upaya rehabilitasi dan penanaman kembali tanaman kehutanan yang masif.
Melalui opini Alarm Bencana Ekologis Dimulai dari Bojonegoro Selatan, saya ingin mengajak semua pihak lebih peduli terhadap kondisi lingkungan. Hutan bukan hanya menghasilkan kayu, tetapi juga berfungsi sebagai penyimpan air, pengendali erosi, penyerap karbon, dan penyangga kehidupan.
"Saya siap bersinergi bersama Perhutani dalam membangun kesadaran masyarakat agar fungsi ekologis hutan tetap terjaga," jelas Dian.
Dalam forum tersebut juga berkembang pembahasan mengenai dinamika kebijakan pengelolaan kawasan hutan saat ini yang telah mengalami pergeseran. Sebagian kawasan hutan kini telah masuk dalam skema Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) yang berada di bawah kewenangan pemerintah pusat. Kendati terdapat penyesuaian regulasi, seluruh pihak yang hadir sepakat bahwa tujuan utama tetap sama, yakni menjaga kelestarian hutan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, dan mempertahankan fungsi ekologisnya.
Melalui agenda Ngopi Bareng ini, Perhutani KPH Bojonegoro berharap hubungan kemitraan dengan pemerhati lingkungan, akademisi, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh elemen warga Bojonegoro semakin solid. Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi, melainkan mampu melahirkan gagasan segar dan aksi nyata di lapangan demi mencegah ancaman bencana ekologis di Bumi Angling Dharma.












.sm.jpg)















.md.jpg)


