Memaknai Hadits Nabi tentang Bau Mulut Orang Berpuasa Secara Bijak Agar Tidak Menggangu
Jumat, 13 Maret 2026 10:00 WIBOleh Tim Redaksi
Aroma mulut saat berpuasa seringkali menjadi perbincangan yang menarik karena mempertemukan dua sisi yang tampak bertolak belakang, yakni aspek medis biologis dengan anjuran spritual dalam Islam. Secara ilmiah, aroma khas ini timbul akibat kondisi mulut yang kering atau xerostomia karena berhentinya aktivitas makan dan minum dalam waktu lama, sehingga produksi air liur yang berfungsi sebagai pembersih alami berkurang.
Dalam sudut pandang Islam, kondisi ini memiliki kedudukan yang istimewa. Terdapat hadis populer yang menyebutkan bahwa aroma mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada aroma minyak misik. Hal ini sering kali dimaknai sebagai apresiasi spritual terhadap pengorbanan seseorang yang sedang menjalankan ibadah, bukan berarti seseorang harus membiarkan kondisi mulutnya tidak terawat atau mengganggu kenyamanan orang lain.
Di sisi lain, Islam adalah agama yang sangat mencintai kebersihan dan wewangian. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pribadi yang sangat gemar memakai parfum dan menjaga kebersihan mulut. Pertanyaannya kemudian muncul, apakah mengusahakan agar mulut tidak berbau atau menggunakan wewangian saat puasa justru bertentangan dengan keutamaan tersebut?
Para ulama memberikan penjelasan yang menyejukkan terkait hal ini. Anjuran menjaga kebersihan, seperti bersiwak atau menyikat gigi, tetap diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan, terutama sebelum waktu zuhur atau saat saat hendak melaksanakan salat. Menggunakan wewangian di pakaian juga tidak membatalkan puasa dan justru merupakan bagian dari etika bersosialisasi agar tidak mengganggu orang di sekitar.
Poin intinya adalah tidak ada pertentangan antara menjaga kebersihan dengan keutamaan ibadah puasa. Aroma yang disebut lebih harum dari misik tersebut adalah nilai pahala di sisi Sang Pencipta, sementara di hadapan sesama manusia, menjaga kesegaran napas dan keharuman tubuh adalah bentuk kemuliaan akhlak.
Maka, menyikat gigi dengan benar saat sahur dan setelah berbuka, serta tetap menggunakan wewangian secukupnya saat beraktivitas, tetap menjadi langkah yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Ibadah tetap berjalan maksimal, dan interaksi sosial tetap terjaga dengan nyaman.




























.md.jpg)


