Film Silent Friend, Kisah Drama yang Intim dan Hangat
Sabtu, 07 November 2026 11:00 WIBOleh Tim Redaksi
Bagaimana jika sekitar 117 miliar manusia yang pernah hidup di bumi ini sebenarnya tidak benar-benar terpisah, melainkan bagian dari satu perjalanan besar peradaban yang sama? Pertanyaan reflektif inilah yang dicoba dihadirkan oleh sutradara Ildikó Enyedi melalui karya terbarunya, Silent Friend. Enyedi mengemas gagasan besar tersebut dalam lingkup yang lebih personal melalui tiga babak waktu di Universitas Philipps Marburg, Jerman.
Cerita pertama berlatar tahun 1908, menyoroti Grete (Luna Wedler), mahasiswi perempuan pertama di kampus tersebut yang harus berhadapan dengan tembok tebal seksisme. Babak kedua bergeser ke tahun 1972, mengisahkan Hannes (Enzo Brumm) yang jatuh hati pada Gundula (Marlene Burow), seorang mahasiswi yang sibuk bereksperimen dengan tanaman geranium. Babak ketiga mengambil latar tahun 2020 saat pandemi COVID-19, berfokus pada Dr. Tony Wong (Tony Leung Chiu-wai), seorang neurolog yang tertahan di area kampus.
Menariknya, Enyedi membedakan identitas visual tiap zaman secara intuitif. Tahun 1908 ditampilkan lewat format 35mm hitam-putih, tahun 1972 menggunakan 16mm bernuansa grainy, dan tahun 2020 dikemas dalam format digital yang jernih. Pendekatan ini membuat penonton dapat langsung mengenali perpindahan era secara instan bahkan sebelum karakternya muncul di layar.

Poster film The Silent Friend karya sutradara Ildikó Enyedi
Benang merah yang menyatukan ketiga kisah ini adalah sebuah pohon gingko legendaris yang telah berdiri di kampus tersebut sejak 1832. Pohon ini bertindak layaknya saksi bisu sekaligus jembatan antara masa lalu dan masa depan. Baik Grete, Hannes, maupun Dr. Wong memiliki keterikatan emosional tersendiri dengan pohon tersebut.
Di awal film, Dr. Wong sempat memaparkan risetnya tentang bagaimana bayi merespons stimulus secara holistis tanpa sekat pikir. Pendekatan itulah yang juga dituntut dari penonton. Alih-alih melihatnya sebagai tiga cerita terpisah, alur Silent Friend terasa paling nikmat jika dimaknai sebagai satu kisah panjang kemanusiaan—tentang ambisi, rasa ingin tahu, dan kerinduan akan koneksi—yang dituturkan dari sudut pandang sang pohon gingko. Lewat bidikan close-up yang menawan, Enyedi seolah menyiratkan bahwa tumbuhan pun memiliki bentuk kesadarannya sendiri atas dinamika manusia di sekitarnya.
Eksperimen Gundula pada tanaman geranium juga membuka ruang diskusi yang menarik mengenai isu gender. Jika tanaman saja secara alami merespons stimulus lingkungan, bukankah sangat wajar jika perempuan menolak tunduk pada perlakuan diskriminatif masyarakat patriarki? Hal ini terlihat dari kegigihan Grete saat menghadapi pertanyaan merendahkan dari para penguji. Keberanian Grete memicu efek domino transformasi peran perempuan hingga kurun waktu seratus tahun berikutnya, yang terlihat dari kebebasan eksperimen Gundula di era 70-an hingga pencapaian Dr. Alice Sauvage (Léa Seydoux) sebagai ilmuwan ternama di tahun 2020.
Selain itu, Enyedi memandang perkembangan teknologi secara positif. Kamera yang dipakai Grete, kabel eksperimen milik Gundula, hingga peralatan canggih Dr. Wong diperlihatkan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana yang menjembatani keharmonisan antara manusia dan alam.
Tentu film ini bukan tanpa kelemahan. Alur non-linear yang kerap melompat antar-era berpotensi sedikit menyulitkan penonton dalam membangun ikatan emosional yang mendalam dengan para tokohnya. Sering kali, rasa simpati kita pada satu karakter belum sepenuhnya terikat namun adegan sudah berpindah ke masa lain.
Meski demikian, Silent Friend tetap menyajikan pengalaman menonton yang berkesan. Sinematografi garapan Gergely Pálos tampil sangat jeli dalam mengolah framing. Salah satu shot indah yang menampilkan dua karakter duduk bersama di antara sela-sela daun rimbun pohon gingko menjadi pengingat visual yang kuat betapa kecilnya manusia di tengah alam raya. Sebuah tontonan contemplative yang mengajak kita sejenak melambatkan tempo, menarik napas dalam-dalam, dan kembali merasakan keajaiban semesta di sekitar kita.
Editor: Mohamad Tohir































