Ulasan Film Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula): Warna Baru Sinema Anak di Tengah Keterbatasan
Minggu, 16 Agustus 2026 15:00 WIBOleh Tim Redaksi
Dunia perfilman Indonesia kembali kedatangan karya baru yang menyasar segmen anak-anak dan keluarga lewat film berjudul Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula). Disutradarai oleh Franklin Darmadi, film ini mencoba menghadirkan alternatif tontonan edukatif di tengah maraknya genre horor dan drama di tanah air.
Franklin Darmadi, yang terakhir membesut film panjang Medley pada 2007, membuka penceritaan lewat teknik long take sederhana yang merepresentasikan ambisi besar di balik layar. Film berdurasi 98 menit ini mengisahkan petualangan empat anggota pramuka tingkat SMP, yaitu Bagas (Aradhana Rahadi), Kirana (Princeza Leticia), Hanna (Bebe Gracia), dan Gerald (Axandro Juliano).
Bersama pembina mereka, Pak Wira (Bukie B. Mansyur), mereka melakukan survei ke desa lokasi jambore yang dipimpin oleh Pak Kades (Unang Bagito) dan Bu Kades (Sarah Sechan).
Konflik utama cerita berpusat pada peredaran gelap narkoba yang disamarkan dalam bentuk jajanan kembang gula untuk anak-anak. Bagas yang mengonsumsi jajanan tersebut mulai mengalami halusinasi hingga akhirnya diculik. Kondisi ini mendorong ketiga rekannya bersama seorang anak lokal bernama Adit (Alby Ersani) untuk melakukan pencarian.
Secara teknis dan alur penceritaan, film ini masih menampilkan beberapa keterbatasan, seperti kualitas visual serta transisi penyuntingan gambar yang kurang konsisten. Selain itu, potensi keterampilan ilmu kepramukaan yang dimiliki para tokoh utama dinilai belum tereksplorasi secara maksimal di sepanjang jalan cerita.
Meski demikian, keberanian sineas dalam mengangkat isu peredaran bahaya narkoba pada anak serta upaya menghadirkan genre petualangan anak layak mendapatkan apresiasi dari para penikmat film nasional.
Editor: Mohamad Tohir































