Raih Leadership Award Amerta Nutrition 2026, Gubernur Khofifah: Pembangunan Gizi Fondasi SDM Bangsa
Senin, 02 November 2026 13:00 WIBOleh Tim Redaksi
Jawa Timur - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dianugerahi Leadership Award Amerta Nutrition 2026. Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dan kontribusinya dalam memperkuat pembangunan gizi dan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya percepatan penurunan stunting di Jawa Timur.
Penghargaan bergengsi dari Jurnal Amerta Nutrition Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga itu diterima Khofifah di Surabaya, Selasa. Penghargaan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan 6th Amerta Nutrition Conference (ANC) 2026.
Menanggapi penghargaan tersebut, Khofifah menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada penyelenggara. Baginya, penghargaan itu bukan hanya sekadar bentuk apresiasi personal, melainkan sebuah amanah besar.
“Saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Jurnal Amerta Nutrition atas penganugerahan ANC 2026 Leadership Award ini. Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar apresiasi kepada seorang pemimpin, melainkan amanah dan pengingat bahwa pembangunan gizi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa,” ujar Khofifah.
Salah satu indikator yang menjadi dasar pemberian penghargaan adalah keberhasilan Jawa Timur menekan angka stunting. Berdasarkan data, prevalensi stunting di Jatim berhasil turun signifikan dari 17,7 persen pada tahun 2023 menjadi 14,7 persen di tahun 2024.
Capaian tersebut sekaligus mengantarkan Jawa Timur bertengger di peringkat kedua nasional sebagai provinsi dengan prevalensi stunting terendah.
Menurut Khofifah, penurunan tersebut tidak lepas dari kerja kolaboratif seluruh pihak. Mulai dari perangkat daerah, TP PKK, BKKBN, kalangan perguruan tinggi, organisasi masyarakat hingga mitra pembangunan yang bergerak bersama.
Percepatan penurunan stunting di Jatim dilakukan melalui intervensi terintegrasi sejak hulu. Di antaranya dengan pemenuhan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, serta edukasi gizi keluarga secara masif. Strategi itu diperkuat dengan konseling door to door, pendampingan ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronis (KEK), serta program Jatim Tanggap Ibu Hamil Risiko Stunting.
“Pesan saya, jangan sampai kita hanya mengejar penurunan angka, tetapi melupakan kualitas intervensi dan keberlanjutan hasilnya. Setiap anak harus memperoleh kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan terbebas dari masalah gizi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Khofifah juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, Posyandu, dan para pemangku kepentingan dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan tata kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia menegaskan, pembangunan gizi harus ditopang oleh kolaborasi lintas sektor, kebijakan yang berbasis data dan bukti ilmiah, serta intervensi berkelanjutan mulai dari remaja, calon pengantin, masa kehamilan, hingga 1000 Hari Pertama Kehidupan.
Khofifah berharap ajang Amerta Nutrition Conference dapat terus menjadi jembatan pertemuan antara akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaksana program di lapangan untuk melahirkan solusi nyata peningkatan status gizi masyarakat demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Editor : Mohamad Tohir































