Mitos Cabut Gigi Atas Bikin Buta: Penjelasan Medis dan Anatomi Organ
Kamis, 22 Oktober 2026 12:00 WIBOleh Tim Redaksi
Anggapan masyarakat bahwa mencabut gigi rahang atas dapat memicu kebutaan merupakan salah satu mitos kesehatan yang hingga kini masih sering dipercayai. Ketakutan yang muncul akibat informasi keliru tersebut tak jarang membuat penderita sakit gigi menunda pemeriksaan ke dokter gigi, yang justru berisiko memperparah infeksi.
Dari tinjauan anatomi kedokteran, saraf yang mengatur organ penglihatan dan saraf yang menyuplai area gigi berada pada jalur yang berbeda. Saraf penglihatan diatur oleh saraf optik (saraf kranial II) yang berfungsi membawa sinyal visual dari retina langsung menuju otak. Saraf ini sama sekali tidak memiliki cabang yang terhubung ke jaringan gigi.
Sementara itu, sensasi pada gigi atas dilayani oleh cabang maksila dari saraf trigeminus (saraf kranial V). Saraf trigeminus ini hanya membawa respons sensori seperti nyeri, sentuhan, dan suhu pada area wajah serta rongga mulut, tanpa membawa informasi visual.
Adanya persepsi bahwa sakit gigi atas terasa hingga ke area mata disebabkan oleh sifat saraf trigeminus yang memiliki tiga percabangan di area wajah. Ketika timbul rasa nyeri hebat pada akar gigi atas, rasa sakit tersebut dapat menjalar hingga ke pelipis atau sekitar mata, namun kondisi ini murni berupa sensasi nyeri dan tidak merusak fungsi penglihatan.
Secara medis, tindakan pencabutan gigi tidak menyebabkan kebutaan. Risiko komplikasi pada mata pascatindakan sangat jarang terjadi dan biasanya hanya bersifat sementara, seperti akibat penyebaran obat bius lokal atau infeksi berat yang tidak ditangani dengan benar.
Masyarakat dianjurkan untuk tidak ragu memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke fasilitas pelayanan kesehatan atau dokter gigi terpercaya guna mencegah bahaya komplikasi infeksi sejak dini.































